Candi Wayang

Candi Wayang Sebuah Dunia Lain di Samiaji

Oleh : Ridwanto



Langit cerah, udara sejuk terasa. Pemandangan yang indah yang dipenuhi dengan dedaunan hijau yang rimbun, daun padi yang mulai menguning mengiringi langkah rombongan pemuda untuk mendaki ke Samiaji yang terdiri dari lima orang laki-laki dan satu perempuan.

Hari menjelang senja, rombongan pemuda pendaki itu menghentikan langkahnya di depan sebuah Masjid, untuk beristirahat, dan sebagian lagi melaksanakan sholat Maghrib. Setelah sebagian anggota selesai melaksanakan sholat dan lelah telah berganti dengan segar akibat hawa yang ada di desa itu. Setelah mengecek semua perbekalannya mereka mengayunkan kaki mulai melakukan perjalanan mendaki.

Suara burung memang sudah tidak terdengar, matahari sudah tidak menampakkan lagi dirinya, namun malam itu sangat indah, langit cerah, bulan purnama berseri, gemerisik suara angin yang menyambar dedaunan mengiringi langkah mereka mendaki dengan penuh semangat.

Mereka berjalan beringinan, tak terasa sudah sampai di kebun jangung, di atas kebun jagung jalan mulai bercabang, mereka mengambil jalan ke kanan, jalan ini adalah jalan yang salah, hal ini karena mereka tidak waspada, terlalu bersemangat dan riang dengan suasana yang ada.

Setelah kira-kira satu kilometer dari persimpangan di atas kebun jagung, mereka menghentikan langkahnya pada jalan yang mulai menurun dan tidak berbatu, dengan pemandangan lebih indah dari yang mereka lalui sebelumnya, walaupun pada waktu itu sudah malam, namun malam itu malam purnama.

“Sepertinya kita salah jalan” kata Farid yang menjadi pimpinan

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa kita salah jalan” sahut Elfira satu satunya anggota perempuan

“Aku tidak pernah melihat pemandangan yang begitu indah seperti ini” jawab Farid

“Mungkin kamu tidak pernah ke sini pada waktu bulan purnama” Elfira melanjutkan

“Aku sering mendaki di gunung ini, bahkan aku pernah mendaki pada saat bulan purnama” jelas Farid

“Benar kita memang salah jalan, aku juga sering mendaki ke sini bersama Farid” Widodo menambahkan

“Baiklah, kita memang salah jalan, kita kembali lagi ke persimpangan yang telah kita lalui tadi, tapi sebelumnya kita istirahat di sini sebentar untuk melepas lelah”

Bulan purnama yang indah, cuaca yang terang, langit yang penuh dengan bintang-bintang membuat mereka terlena, melupakan keadaan dirinya yang salah jalan, hawa sejuk yang sangat nyaman membuat mereka semua terkantuk dan secara bersamaan mereka tertidur.

Dalam tidur mereka, pada seorang pemuda yang bernama Agung hadirlah sebuah mimpi yang aneh, Agung bertemu dengan kakek yang sangat tua, kakek itu berkata :

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah”

Agung terbangun dari mimpinya kemudian menelusuri jalan dalam mimpinya, setelah bertemu pohon besar, Agung berjalan mbrasak di sebelah kiri pohon. Tidak sadar bahwa dirinya telah masuk ke alam lain, ke alam Ghoib, Agung masuk ke daerah Candi Wayang yang bila seseorang masuk kesana akan sulit untuk kembali ke alam nyata.

Bukan hanya Agung saja yang bermimpi, akan tetapi Farid juga bermimpi hal yang sama, akan tetapi kakek berkata lebih lengkap dalam mimpi Farid :

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah. Jangan kalian lewat dari sebelah kiri pohon, kalaupun terlanjur, hanya yang selalu ingat kepada Allah yang akan dapat membimbing kalian kembali pulang”

Farid bangun, dan termenung memikirkan apa maksud dari mimpinya itu. Kemudian dia membangunkan teman-temannya, akan tetapi Agung tidak ada di tempat.

“Apakah kalian tahu, kemana Agung pergi” tanya Farid

“Tidak tahu” jawab teman-temannya.

“Baiklah kita tunggu sebentar, kemudian kita akan kembali ke persimpangan yang tadi” lanjut Farid

Semua tidak tahu kemana perginya Agung, seteleh lama ditunggu Agungpun tidak kunjung datang juga.

“Mari kita cari di sekitar sini, mungkin akan bertemu dengan Agung”

Setelah dicari di sekitar tempat mereka, Agung tidak diketemukan, mereka hanya menemukan jejak kaki yang menuruni jalan di depan mereka yang berlawanan dengan arah mereka akan kembali. Merekapun mengikuti jejak kaki itu, sampailah di depan mereka sebuah pohon besar yang rindang, dan jejak kaki itu melewati jalan yang sebenarnya bukan jalan setapak, sebelah kiri pohon.

“Hem inilah jalan dan pohon yang ada di dalam mimpiku itu” pikir Farid

“Berhenti, jangan mengikuti jejak kaki itu, kita lewat dari sebelah kanan pohon saja”

Mereka lewat dari sebelah kanan pohon, mengitari pohon besar itu, ternyata jejak kaki terputus di sana, akan tetapi apabila dilihat dari arah mereka datang jejak kaki itu jelas kelihatan. Keanehan ini membuat mereka merasa ketakutan.

Mereka kemudian melanjutkan mencari lewat dari sebelah kanan pohon, akan tetapi kali ini mereka tidak mengitari pohon. Mereka berjalan terus menyusuri jalan setapak tanpa batu yang itu. Memang benar pemandangan di sini begitu indah, walaupun waktu itu malam hari, hal ini karena sinar bulan purnamalah yang membuat pemandangan menjadi indah.

Setelah berjalan cukup lama mereka sampai pada padang rumput yang luas, dengan pemandangan yang menakjubkan, padang rumput ini dikelilingi oleh tebing, jalan masuknya hanya satu yaitu jalan yang telah mereka lalui, sekaligus menjadi jalan keluar dari lembah ini. Agungpun tidak ada di sana.

“Benar, semua sama persis dengan yang ada dalam mimpiku” gumam Farid

Setelah lama mencari di lembah itu akan tetapi Agung tidak di ketemukan, bahkan lembah ini sepertinya tidak pernah atau jarang sekali didatangi orang.

“Mari kita kembali ke pohon besar tadi, sepertinya Agung melewati jalan yang ada disebelah kiri pohon besar tadi” ajak Farid

“Kita tadi kan sudah mengitari pohon besar tadi, Agungpun tidak ada di sebelah sana” tanya Widodo tidak percaya.

“Ya memang, kita telah mengitari pohon besar itu, tetapi tidak dari sebelah kiri pohon” Farid menegaskan

“Apa bedanya melewati pohon besar dari sebelah kanan, dibanding dengan dari sebelah kiri?” tanya Muchtar penasaran

“Saya kira ada bedanya” jawab Farid

“Apa bedanya, katakan pada kami?”, sahut Takim anggota yang termuda ini dengan penasaran.

“Saya sendiri juga tidak yakin, tapi menurut saya ada bedanya, karena mungkin hal ini berhubungan dengan mimpi saya waktu kita semua tertidur” jawab Farid

“Ceritakan apa mimpi kamu pada kami!!” seru semua anggota secara serempak.

Kemudian Farid menceritakan mimpinya yang aneh itu, di mana dalam mimpinya dia bertemu dengan seorang kakek tua yang memberikan wejangan aneh kepada dirinya.

“Apa salahnya kita, mencoba melewati jalan yang ada di sebelah kiri pohon besar itu” kata Muchtar

“Masalahnya, siapa yang berani lewat dari sebelah kiri pohon besar itu?” tanya Farid

“Baiklah aku yang akan lewat ke sana” tantang Widodo

“Boleh kau lewat di sana akan tetapi, terlebih dahulu ikatkan tali yang panjang ini ke perutmu, sementara kami semua nanti akan memegangi tali dan mengulurkan tali itu, agar kami semua tidak kehilangan kamu” jelas Farid

“Ayo mari kita kembali ke pohon itu, segera kita lakukan hal tersebut agar Agung segera kita temukan”

Hari sudah menjelang subuh, mereka berlima segera menuju ke pohon yang besar itu, untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan untuk mencari keberadaan Agung. Kemudian mereka segera mengikat perut Widodo dengan tali yang panjang.

“Bagaimana, apakah kamu siap siap, Dok?” tanya Farid

“Oke, aku sudah siap, aku akan berjalan di sebelah kiri pohon ini, pegangi dan ulurkan tali ini”

Widodopun berjalan dari sebelah kiri pohon, sedangkan Farid memegangi tali dan mengulurkan bersamaan dengan berjalannya Widodo.

“Tolong kalian lihat dari sebelah kanan pohon”

Mereka bertigapun bergegas melewati sebelah kanan pohon, untuk melihat apa yang terjadi, namun keanehan terjadi di sisni. Bahwa Widodo tidak terlihat sama sekali dari samping kanan pohon, padahal Widodo sepertinya sudah berjalan melewati pohon tapi dari samping kiri. Juga Farid sudah tidak melihat Widodo lagi. Merekapun mengitari pohon dari samping kanan.

Mereka terperanjat, kaget, dan takut, dengan jantung berdebar, seluruh tubuh gemetar dan muka mulai pucat, ketiga pemuda lari menghampiri Farid yang memegang tali, namun dari tempat Farid Widodo juga tidak kelihatan sama sekali, bahkan tali itu seakan putus ketika melewati pohon besar itu. Faridpun mengalami hal yang sama dengan teman-temannya sehingga tali itu terlepas dari pegangannya, namun tali itu berhenti berjalan seakan Widodo lepas dari tali tersebut.

“Widodo, telah masuk ke dalam alam lain, agaknya Agung juga masuk ke sana bila kita melihat dari jejak sepatunya” kata Farid dengan Wajah yang pucat demikian juga teman-temannya.

“Lalu apa yang akan kita lakukan, apakah kita akan menunggu di sini, sampai kapan?” selah Muchtar

“Entahlah Tar, aku sendiri binggung, apa yang akan kita lakukan, kalau salah satu dari kita masuk ke sana, maka akan mengalami hal yang sama” dalam kepanikan Farid lupa akan mimpinya.

Takut akan keadaan di sekitar mereka, bingung apa yang akan mereka lakukan untuk menolong dua orang temannya dan cemas akan nasib kedua temannya yang masuk ke alam lain, bercampur menjadi menjadi satu membuat mereka berempat hanya duduk termenung, dengan seluruh tubuh yang gemetar semakin kencang, dan wajah mereka semakin pucat pasih.

Bagaimana nasib Agung, kita sudah meninggalkan begitu lama.

Seteleh bangun dari tidurnya yang mendapatkan mimpi, Agung melangkahkan kakinya mbrasak melewati sebelah kiri pohon besar, antara sadar dan tidak. Sebenarnya jalan di sebelah kiri pohon adalah pintu menuju ke alam lain

Baru masuk ke dalam alam lain itu, Agung mendengar bisikan dengan suara seorang kakek, kakek berkata dalam bisikannya yang halus dan lembut, tetapi sangat jelas terdengar di telinga Agung

“Selamat datang di alam yang menakjubkan, alam yang penuh dengan keindahan juga sangat menakutkan. Keindahan, keheningan dan keangkeran berpadu menjadi satu. Janganlah kamu tergoda oleh sesuatu yang lebih indah dan menakjubkan dari yang lain, karena kamu akan terbawa pada alam yang sangat menakutkan dan mengerikan”

Alam yang begitu indah menakjubkan membuat Agung lupa akan bisikan halus itu. Alam yang dipenuhi dengan bunga yang beraneka ragam mempesona, juga buah-buahan yang ranum dan mulai masak, menggiurkan. Ada sebuah pohon, dengan bunga yang sangat indah lebih indah dari yang lainnya, pohon ini juga berbuah lebih menggiurkan dari buah-buah yang lain. Agung tidak pernah melihat pohon yang berbunga dan berbuah seperti ini. Agung melangkah maju bermaksud memetik bunga dan buah tersebut.

Agung tidak mengetahui, bahwa di balik pohon tersebut segala jenis makhluk halus, mulai dari wewe gombel, sundel bolong sampai dengan makhluk yang mempunyai bentuk tidak karu-karuan sedang mengintainya.

Ketika Agung memegang bunga itu, maka tiba-tiba di selilingnya berubah menjadi alam yang sangat menakutkan. Di hadapannya berdirilah sesosok wanita dengan muka pucat pasih dan ketika berbalik punggungnya berlubang. Agung sangat ketakutan dan gemetaran, dia berlari tanpa melihat arah meninggalkan perempuan itu, namun ketika ia berlari ia bertemu, bertabrakan dengan makhluk lain, makhluk yang hanya tinggal kepalanya saja, sedangkan bagian tubuhnya terdiri dari usus yang bergelantungan, makhluk ini tidak berkaki, makhluk ini berjalan seperti terbang, menghampiri Agung.

Belum redah rasa takut di hati Agung sekarang harus bertemu dengan makhluk lain yang lebih mengerikan, apalagi dari arah lain terdengar suara lolongan srigala juga terdengar suara tangisan bayi, menambah takut hati Agung. Agung berusaha lari ke tempat lain meninggalkan makhluk itu, lagi-lagi dia bertemu dengan makhluk lain yang juga sangat mengerikan.

Suasana yang sangat mencekam, juga makhluk-makhluk lain yang ditemui Agung membuat ia tidak kuat menahan ketakutan dan kengerian ini, diapun akhirnya pingsan. Namun setelah bangun, kembali ia dihadapkan oleh peristiwa yang sama, ia bertemu dengan makhluk mirip dirinya akan tetapi seluruh wajahnya penuh dengan luka yang dikerubungi ulat, dan perutnya terbuka, sebagian dari ususnya keluar, kaki yang tidak beralas, sebelah kiri hanya terlihat tulangnya saja yang sebeleh kanan penuh dengan lukah yang bernanah. Apa yang dilihat di depannya sangat menakutkan, mengerikan dan menjijikkan, seketika itu Agung muntah, lalu pingsang kembali.

Hari-hari Agung selanjutnya diwarnai dengan hal yang sama, membuat ia pingsan, bangun, kemudian pingsan kembali begitu seterusnya. Agung telah masuk ke dalam mimpi yang terburuk di dalam hidupnya.

Kita tinggalkan dulu Agung yang mengalami mimpi buruk itu, kita kembali kepada Widodo yang masuk, berusaha untuk mencari Agung

Widodo siap dengan perutnya yang diikat seutas tali yang panjang. Setelah masuk melewati sebelah kiri pohon besar itu, keanehan dirasakan Widodo. Widodo merasa dirinya tidak terikat lagi oleh tali dan dia tidak ingat lagi akan teman-temannya, seolah dia di tempat itu sendirian, yang dia ingat hanya pesan kakek tua yang membisikan kepadanya sewaktu dia masuk tempat itu :

“Selamat datang di alam yang menakjubkan, alam yang penuh dengan keindahan juga sangat menakutkan. Keindahan, keheningan dan keangkeran berpadu menjadi satu. Janganlah kamu tergoda oleh sesuatu yang lebih indah dan menakjubkan dari yang lain, karena kamu akan terbawa pada alam yang sangat menakutkan dan mengerikan”

Semakin masuk ke dalam, semakin jauh ia berjalan semakin indah pemandangan yang dia jumpai dan semakin lupa akan keberadaan teman-temannya, juga lupa akan yang dia cari, seorang teman yang berada di alam itu juga, seorang teman yang terperangkap dalam tempat yang sangat menakutkan, yang sebenarnya tidak jauh dari dirinya.

Hari-hari yang dilalui Widodo semakin indah, pendangan nan indah, hawa nan sejuk tapi angin tidak pernah berhembus. Widodo tidak menaruh curiga sama sekali akan hal yang aneh yang mana angin tidak berhembus di tempat itu. Widodo hanya menikmati bunga-bunga yang indah dan sekali-sekali dia memetik buah untuk mengisi perut. Pada diri Widodo tidak terpikirkan kesusahan atau ketakutan sedikitpun, karena keindahan selalu mengiringinya. Dia melihat tempat duduk di tepi taman yang indah di mana depan tempat duduk itu menghadap ke arah Candi yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang beraneka warna yang menebarkan keharuman, juga buah-buahan, kemudian dia duduk di sana untuk bermalas-malasan sambil menikmati keindahan yang ada.

Kita kembali kepada empat orang yang kebingungan apa yang harus mereka perbuat untuk mencari dan menolong temannya.

Hari menjelang Subuh, tapi dalam kebingungan, ketakutan dan kecemasannya Farid ingat kepada Allah SWT, ingat kepada zat yang berkehendak atas segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini. Dia mengambil wudlu dan mengajak teman-teman untuk melakukan sholat Subuh karena pada waktu itu adzan Subuh telah berkumandang. Teman-temannya mengikutinya, mereka berwudlu dari air putih yang mereka bawah sebagai persediaan minum yang cukup untuk dua sehari. Mereka melakukan sholat Subuh bersama.

“Aku baru ingat akan pesan yang disampaikan oleh kakek tua dalam mimpiku, Tar” kata Farid setelah semua melaksanakan sholat Subuh, “Kalian masih ingatkan, mimpiku yang telah kuceritakan pada kalian kemarin malam” lanjut Farid

“Lalu siapa yang akan masuk ke sana untuk mencari kedua teman kita, tidak ada dari kita yang sesuai dengan mimpimu itu”

“Kita tunggu saja dahulu sehari atau dua hari, bukankah perbekalan kita masih cukup untuk dua hari, dan kalau kita bisa mengirit mungkin akan cukup sampai tiga hari. Nanti aku yang akan masuk ke sana, karena ini adalah tanggung jawabku, bukan karena aku sesuai dengan mimpiku itu” kata Farid

“Lalu Bagaimana nanti?” tanya Elfira yang sangat gelisah mendengar Farid yang sudah seperti kakaknya sendiri, harus masuk menyusul ke dua temannya. Tidak sanggup rasanya bila Elfira yang sangat sayang kepada Farid harus berpisah dengannya, karena selama ini Elfira begitu dekat dengan Farid, kemana Farid mendaki gunung, Elfira selalu ikut menemani, Elfira menganggap Farid adalah sebagai kakaknya, begitu juga orang tua dan keluarga Elfira, apalagi Ibu Elfira yang masih berdarah Jerman selalu menitipkan Elfira pada Farid baik di sekolah atau saat mereka mendaki bersama.

“Sudahlah sekarang kita, tunggu saja, kita lihat nanti”

Dalam penantian mereka tidak melakukan aktivitas apa-apa, kecuali, makan, mandi dan sholat. Tidak terasa hari sudah berganti hari, dan telah memasuki hari ketiga, namun teman-teman yang ditunggu tidak kunjung datang juga harapan sampai ke puncak Samiaji telah hilang dari angan mereka, yang ada harapan berjumpa kembali dengan kedua teman.

Perbekalan mulai habis dan penantian mulai membosankan, tapi di hati masing-masing masih berkecamuk rasa takut, bingung dan cemas.

“Takim, kau tidak boleh lama-lama meninggalkan sekolah” kata Farid
“Kau harus pulang, bila kamu di sini, maka kamu akan ketinggalan pelajaran. Turunlah dan ajaklah Elfira (adikku) untuk pulang bersamamu. Tapi sebelum kamu pulang mampirlah dahulu ke Bapak Anwar. Sampaikan salamku. Ceritakan tentang apa yang terjadi padaku juga teman-teman kita di sini. Beliau pasti tidak akan tinggal diam. Beliau Pasti akan datang ke sisni. Biarlah aku dan Muchtar yang menunggu di sini” lanjut Farid

“Baik Mas, mari kita segera turun Mbak Elfira, mumpung hari masih pagi” kata Takim

“Tapi…..Maaaassss” Elfira tidak dapat melanjutkan kata-kata, menetes air matanya harus berpisah dengan orang yang ia sayangi dalam keadaan seperti ini, juga bila mengingat akan apa yang dikatakan Farid waktu itu, bahwa dia sendiri yang akan masuk ke alam itu untuk mencari kedua temannya. Hati siapa yang tidak sedih bila harus berpisah, apa lagi perpisahan yang akan di alami adalah perpisahan ke alam yang berbeda.

“Sudahlah kau jangan bersedih dan jangan menangis adikku. Kau mendegar tadi apa yang baru aku katakan, bahwa aku menyuruh Takim untuk meminta pertolongan pada Pak Anwar. Kau tahu siapa Pak Anwar. Pak Anwar adalah Kami Tua atau sesepuh desa ini, mungkin beliau tahu tentang hal ini. Pak Anwar selama ini menganggap aku sebagai adik beliau. Mana mungkin beliau berpangku tangan melihat adiknya mengalami kesusahan” hibur Farid kepada Elfira

Walupun selamai ini hubungan Elfira dengan Farid bukan saudara sekandung, hanya teman sekolah SMA, akan tetapi hubungan mereka begitu dekat. Sehingga Elfira tidak tega harus pulang sendiri, sementara Farid harus menanggung semua peristiwa yang terjadi.

“Sudah adikku, berangkatlah kau bersama Takim, do’aku selalu menyertaimu di perjalanan. Sampaikan salamku pada ayah dan Ibumu” kata Farid

“Takim segeralah kalian berangkat, jangan lupa apa yang telah kukatakan tadi. Dan aku titipan Mbak Elfira padamu, jagalah dengan segenap tenagamu untuk aku” kata Farid pada Takim

“Baiklah Mas, akan kujaga dengan sepenuh tenagaku, bila perlu dengan nyawaku sekalipun” jawab Takim

“Terima kasih, Kim dan selamat jalan” jawab Farid

Walaupun Takim adalah anggota yang paling muda yang waktu itu masih kelas 3 SMP, namun Takim adalah anak yang baik, anak yang pemberani, setia kawan dan penuh tanggung jawab. Faridpun tidak kawatir, kalau Takim yang akan menjaga Elfira adiknya.

Takim pun berjalan pada jalan yang menanjak itu, padangan mata Farid tidak lepas dari keduanya, berat rasanya melepas adiknya bersama orang lain, karena hal ini tidak pernah terjadi, tapi keadaanlah yang memaksa demikian demi sayangnya kepada adiknya pula.

Elfira pun berjalan bersama Takim dan sesekali menengok ke arah belakang, arah di mana Farid dan Muchtar menunggu kedatangan dua teman mereka, berat rasanya meninggalkan mereka berdua, apalagi Farid kakaknya.

Mengapa Farid memilih Muchtar untuk menemani dia menunggu temannya yang hilang. Muchtar mempunyai banyak pengalaman, dia tahan banting terhadap segala cuaca alam, dia pernah berjalan kaki mengelilingi Indonesia selama satu tahun. Muchtar tidak pernah mengeluh dan panik walau kehabisan bekal. Muchtar tidak pernah mengeluh dan panik ketika mereka mendaki berempat dan tersesat. Faridpun sudah sering mendaki bersama Muchtar. Muchtar juga anggota yang paling tua walaupun di sekolah kelasnya masih di bawah Farid. Akan tetapi teman-teman lebih suka Farid yang memimpin.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Rid?” kata Muchtar

“Kita tunggu saja, kedatangan Pak Anwar. Barangkali beliau tahu jalan keluarnya” jawab Farid

Hari mulai sore, matahari mulai condong ke Barat. Pemandangan yang begitu indah di depan mereka berdua, namun tidak membuat mereka tertarik, karena hati mereka berdua masih diliputi rasa takut, bingung dan cemas.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup orang berbincang-bincang menaiki gunung ini. Semakin lama suara itu semakin jelas. Dan terlihatlah tiga orang di persimpangan di atas kebun jagung menuju tempat mereka. Suara itu semakin jelas dan semakin terlihat pemilik suara itu.

“Bukankah itu Pak Anwar bersama dua orang temannya, Tar” kata Farid ketika melihat Pak Anwar yang sedang menuju ke tempat mereka”

“Benar, Rid, itu Pak Anwar”

Pak Anwar sengaja mengajak dua temannya untuk membawa perbekalan air minum juga makanan.

“Assalamu’alaikum, bagaimana kabarmu, dik Farid. Aku mendengar dari adikmu Elfira bahwa kalian mengalami musibah. Dua orang teman kalian masuk ke alam lain”

“Memang benar Pak Anwar, kami mengalami musibah seperti apa yang telah disampaikan oleh Elfira. Mereka berdua masuk melewati sebelah kiri pohon besar itu. Lalu bagaimana dengan Elfira Pak Anwar”

Pak Anwar kaget ketika Farid menudingkan telunjuknya ke arah di sebelah kiri pohon.

“Masya’ Allah, mereka lewat jalan itu. Celaka teman-temanmu telah masuk ke dalam Candi Wayang. Alam di mana bila orang masuk ke dalamnya, mereka tidak dapat kembali”

“Tetapi aku telah bermimpi tentang hal yang aneh, Pak” kata Farid
“Apa mimpimu itu dik Farid, coba ceritakan padaku” kata pak Anwar

Kemudian Farid menceritakan tentang bagaimana satu persatu teman masuk ke tempat itu juga mimpinya kepada Pak Anwar sesepuh desa itu.

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah. Jangan kalian lewat dari sebelah kiri pohon, kalaupun terlanjur, hanya yang selalu ingat kepada Allah yang akan dapat membimbing kalian kembali pulang”

“Aku tidak dapat berbuat banyak, sepertinya hanya engkau yang dapat menolong temanmu itu untuk keluar dari sana, karena engkau yang mendapatkan mimpi itu, juga aku percaya pada engkau akan yang dimaksud oleh mimpi itu” jelas pak Anwar

“Kita sholat Ashar terlebih dahulu, aku sudah membawa banyak air untuk minum juga untuk berwudlu serta mandi. Nanti akan kita pikirkan bagaimana caranya setelah kita sholat Ashar” ajak pak Anwar yang kebetulan juga belum sholat Anshar karena perjalanan yang beliau tempuh.

Sholatlah kelima orang tersebut dipimpin oleh pak Anwar sesepuh desa. Setelah sholat pak Anwar menyuruh temannya untuk meninggalkan mereka bertiga, biarlah pak Anwar yang menemani mereka berdua.

Kedua teman pak Anwar menurunun gunung itu untuk kembali ke rumah masing-masing juga untuk menyampaikan kabar ini pada istri pak Anwar agar tidak cemas menunggu.

“Baiklah, sekarang kamu masuklah dik Farid, aku percaya bahwa engkau akan dapat menemukan dan membawa kedua teman kalian kembali. Biarlah aku di sini bersama Dik Muchtar.”

Setelah mempersiapkan perbekalan, yang sebelumnya juga mengisi perut terlebih dahulu, Farid melangkahkan kaki memasuki alam itu diiringi oleh do’a Pak Anwar serta temannya Muchtar.

“Selama apapun, kita harus menunggu di sini Dik Muchtar, jangan sampai meninggalkan teman kalian, karena aku percaya Dik Farid akan dapat membawa ke dua temannya kembali, walaupun mungkin waktunya agak lama” kata Pak Anwar.

“Baiklah Pak, akupun sedah terbiasa dengan keadaan seorang diri di alam terbuka” kemudian Muchtar menceritakan pengalaman saat dia keliling Indonesia dengan berjalan kaki sendirian, tanpa seorang teman selama satu tahun.

“Kamu banyak pengalaman juga, Dik Muchtar, lalu bagaimana dengan sekolah kalian”
“Mau bagaimana lagi Pak, biarlah aku menunggu sampai mereka kembali, kami berangkat bersama, pulangpun harus bersama, itu demi persahabatan kami Pak”

“Aku salut dengan kalian semua anak muda, selagi kau dapat memilih untuk pulang, kau memutus untuk menunggu teman-teman kalian”

Begitulah hari-hari mereka di warnai dengan percakapan. Tidak terasa hari telah berganti, dan minggupun berganti. Sudah seminggu Pak Anwar menemani Muchtar menunggu temannya.

Suatu pagi Pagi Anwar pamit untuk turun gunung mengambil perbekalan yang mulai habis. Sore harinya pak Anwar sudah dating kembali bersama temannya yang membawakan perbekalan. Seperti yang lalu setelah menaruh perbekalan teman-teman pak Anwar turun gunung meninggalkan mereka, tetapi kali ini pak Anwar ikut turun gunung, bukan berarti beliau tidak mau lagi menemani Muchtar menunggu. Akan tetapi sebagai sesepuh desa tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh warganya. Beliau ikut turun gunung karena ada urusan desa yang harus diselesaikan. Tapi sebelum turun beliau sempat berpesan kepada Muchtar untuk sabar menunggu. Pak Anwar percaya bahwa teman-temannya pasti kembali.

Sudah seminggu Muchtar menunggu ditemani pak Anwar, tapi untuk malam ini Muchtar akan menunggu sendirian, pengalamannya yang membuat Muchtar berani dan sabar menunggu.

Satu hari dilalui seorang diri, hari berganti-hari, dan minggu mulai berganti ia lalui seorang diri, namun ketiga temannya yang berada di alam lain belum kembali. Pak Anwar juga belum datang juga. Sementara perbekalan sudah menipis, akankah ia pergi ke desa untuk mengambil perbekalan. Namun Pada hari ke delapan Muchtar menunggu sendirian, di pagi hari pak Anwar datang bersama gua orang temannnya yang membawakan perbekalan.

“Sudah terlalu lama akau meninggalkan dirimu menunggu sendiri di sini, Dik Muchtar. Apa yang terjadi selama engkau menunggu. Apakah teman-temanmu sudah kembali?” tanya Pak Anwar

“Tidak terjadi sesuatu apapun Pak, tapi saya kawatir, kalau semakin lama mereka di sana akan semakin tidak tahu jalan pulang, pak”

Ketika itu seperti biasa, kedua teman pak Anwar kembali ke desa terlebih dahulu. Mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari mereka sebagai petani di desa itu.

“Sabar Dik Muchtar, aku yakin Dik Farid dapat menemukan kedua teman kalian dan membawa mereka kembali pulang” hibur pak Anwar

Hari-hari selanjutnya Muchtar tidak menunggu sendirian. Muchtar ditemani Pak Anwar, dengan demikian ada teman untuk bercakap-cakap.

Kita kembali ke Farid yang masuk ke alam lain untuk mencari kedua temannya yang masuk terlebih dahulu.

Setelah siap, dan perlengkapan serta perbekalan telah siap, Farid mengayunkan kakinya diawali dengan bacaan “Bismillahirrohmanirrohim” dan “Lailaahaillallah”

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Dan lapaz “Tiada Tuhan selain Allah”

Memulai sesuatu hendaknya dengan menyebut nama Allah SWT. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, seseorang yang meminta dengan sungguh-sungguh, Allah pasti akan mengabulkannya, karena Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Allah, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bila Allah SWT telah berkehendak. Tidak ada sesuatu yang akan menghalangi bila Allah berkehendak lain pula.

Tiada Tuhan selain Allah. Allah adalah kekuatan yang Maha Tinggi. Tidak ada kekuatan lain di jagad raya ini yang dapat menandingi kekuatan Allah, juga kekuataan alam ghoib sekalipun yang sedang mereka hadapi.

Dia berjalan memasuki pintu gerbang alam itu, dia mendengarkan bisikan yang sama dengan kedua temannya ketika memasuki pintu gerbang alam itu bisikan yang halus. Teringatlah ia akan mimpinya, bisikan dengan suara yang sama dengan mimpinya. Dia selalu mengingat akan nama Allah, dia tidak lupa akan mimpinya dan di memperhatikan bisikan yang halus namun jelas itu.

Dia berjalan menelusuri jalan yang ada di dalam alam itu, samping kiri dan kanan pemandangannya sangat indah, ia menikmati pemandangan itu, akan tetapi ia ingat semua, ingat akan sang Pencipta, ingat akan mimpinya, ingat akan bisikan itu juga ingat akan tutujuannya untuk mencari teman-temannya. Hal inilah yang membuat ia tidak terlena oleh pemdangan yang indah yang dapat menenggelamkannya ke dalam impian yang semakin dalam tanpa bisa bangun kembali.

Dia pun melihat tali yang mengikat Widodo lepas di tengah jalan itu. Akan tetapi simpul pada tali itu masih mengikat. Aneh……sekali lagi aneh, piker Farid dengan sadar

Di suatu taman luas yang indah , terdapat bangku untuk duduk menikmati pemandangan yang begitu indah dari sini terlihat Candi dikelilingi oleh bunga yang beraneka warna juga pohon-pohon yang telah berbuah ranum dan sebagian sudah masak. Duduklah seorang pemuda. Dihampirinya pemuda yang sedang duduk itu. Bukankah itu Widodo, mengapa dia hanya duduk terlena oleh pemandangan di depannya.

Widodo terlena seolah terbius dengan apa yang dia lihat, dia tidak sadar bahwa seorang temannya dari dunia nyata sedang mendekatinya.

Semakin dekat Farid berjalan ke arah Widodo. Widodopun tetap tidak sadar akan kehadiran Farid. Farid segera menyeblek (menampar tangan Widodo dengan pelan), Widodo baru sadar akan kehadiran Farid di sampingnya.

“Dok, kamu kok hanya duduk-duduk di sini, apakah Agung sudah kamu ketemukan”

Seakan disambar petir Widodo terperanjat dan menjawab “Aaa….apa, Aaaa…gung, belum aku ketemukan, aku baru saja istirahat di sini, untuk melepas lelah”

“Apa katamu, kamu baru sebentar istirahat, kami sudah tiga hari menanti kalian di depan pohon besar itu” kata Farid

“Apa sudah tiga hari, sudah selama itukah aku duduk di sini” sahut Widodo heran

“Ayo kita segera mencari Agung, agar teman kita tidak kelamaan menunggu kita” kata Farid

“Lalu siapakah yang menunggu kita kali ini”

“Muchtar ditemani pak Anwar, sementara Takim aku suruh pulang untuk menemani Elfira” jawab Farid

Mereka berjalan terus menelusuri jalan di alam itu. Tibalah mereka pada sebuah gua. Gua itu memang agak gelap tapi masih terlihat ada orang di dalamnya, seorang kakek yang sangat tua rambutnya sudah putih semuanya tidak ada satupun rambut hitam yang tersisa, kakek itu sujud sepertinya melaksanakan sholat. Benar kakek itu melaksanakan sholat. Setelah sholat kakek itu duduk seperti seorang yang sedang semedi (bertapa), akan tetapi dia gelisah seperti ada yang mengganggunya. Kakek itu melangkah keluar dari Gua.

“Anak muda perlihatkan dirimu, aku tahu kalian berdua telah memperhatikan aku sejak tadi”

Keluarlah Farid dan Widodo dari tempat di mana ia memperhatikan kakek itu. “Maafkan aku kek, bukan aku bermaksud jahat terhadap kakek. Akan tetapi aku heran ada seorang yang hidup di dalam alam ini. Aku setengah takut dan setengah tidak percaya dengan keberadaan orang di dalam alam ini” kata Farid

“Maksud kalian, kalian kira aku ini setan, begitu” kakek itu setengah sewot “Aku adalah manusia biasa, aku sudah lama hidup menyendiri di sini” lanjut kakek

“Bukankah kakek adalah orang yang dating dalam mimpi itu, dan bukankah kakek yang telah memberi peringat dengan bisisak kepada kami ketika kami memasuki pintu gerbang alam ini” kata Farid
“Benar cu, akulah orangnya” jawab kakek

“Lalu sebenarnya siapa kakek ini” sahut Widodo

“Dulu sebelum masuk ke alam ini orang menjebutku, Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus” jelas kakek

“Bukankah Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus sudah meninggal pada saat perang di Samiaji. Bukankah tokoh itu hidup di jaman Mojopahit yang berjulukan Pendekar Lembu Sakti, dengan nama mudanya Lembu Wongso” tanya Farid heran. Bukankah Pendekar Lembu Sakti hanya ada di dalam cerita yang ia (Farid) tulis, tokoh itu adalah tokoh fiksinya, mengapa sekarang ia ketemu di alam ini.

“Benar aku adalah Lembu Wongso, tokoh dalam cerita yang Kamu tulis, Farid” kata kakek.

Farid semakin heran, semakin mengerikan saja. Kalau benar kakek itu adalah tokoh dalam cerita fiksinya, bukankah dalam cerita itu kakek telah meninggal.

“Bukankah dalam cerita itu kakek sudah meninggal” tanya Farid memberanikan diri.

“Kau salah cucuku, aku tidak meninggal, aku hanya lari dari kejaran mereka, menuju lembah ini” kata kakek. Kemudian kakek itu menceritakan dengan lengkap perihal dirinya sampai di sini. Bahwa kakek ini semula mengasingkan di lembah yang pernah mereka kunjungi dalam lembah itu terdapat sebuah gua, kakek itu bersemedi (bertapa) di dalam gua, tapi setelah empat puluh hari dia bertapa tiba-tiba di terbawah ke alam lain dan tak seorangpun dapat melihatnya, hilang bersama gua yang ia tinggali saat ini.

“Kalau begitu umur kakek sudah enam ratus tahun lebih, yah kek” Tanya Farid

“Ngawur aja mana ada orang yang berumur selama itu, aku baru di sini tiga puluh tahun” jawab kakek

“Kalau benar kakek pernah hidup di jaman Mojopahit, maka kakek sudah berumur setua itu, karena jaman sekarang ini dengan jaman Mojopahit jaraknya lima ratus tahun lebih” jelas Farid

“Aacchh, selama itukah aku di sini. Aku di sini hanya mengalami pergantian hari selama tiga puluh tahun. Aku juga heran bila mendengar kabar dari luar sana, mengapa cucu-cucuku baru berusia sekitar satu tahun kok sudah menikah, juga mereka baru berusia sekitar tiga tahun kok sudah meninggal. Tapi aku enggan untuk keluar dari alam ini”

Sebenarnya dalam cerita yang ditulis Farid itu, kakek ini telah menurunkan raja-raja yang berkuasa di Samiaji, sampai dengan rajanya yang terkenal dengan nama Raden Glandang Jati.

“Aku mau tanya lagi kek. Kalau kakek adalah Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus, bukankah Si Peniup Suling Sakti belum mengenal Islam” tanya Farid

“Kamu salah cu, kalian tahukan cucuku yang bernama Gajah Pola da Simo Lelono. Kalau kalian tahun Gajah Polah dan Simo Lelono, pernah ke Troloyo dan pernah bertemu dengan Syeh Jumadil Qobru. Cucuku banyak belajar tentang prilaku yang mulya kepada Syeh Jumadil Qubro. Akupun belajar dari cucuku, karena kemuliaan Islam, maka sejak itu aku memeluk agama Islam” jelas kakek

“Boleh, kami minta tolong kepada kakek. Sebenarnya kami masuk ke dalam alam ini karena mencari teman kami yang masuk kesini terlebih dahulu. Apakah kakek dapat membantu kami?, apakah kakek tahu keberadaan teman kami” pinta Farid dan Widodo

“Ha, ha, ha temanmu yang terlena dengan keadaan yang ada, sehingga ia lupa bahwa ini semua hanya ciptaan zat yang Maha Kuasa. Musibah yang terjadi terhadap temanmu bukan karena orang lain, tapi karena kecerobohannya dia semata, ha, ha, ha, ha, ha” kakek itu menjelaskan dengan tawa terbahak-bahak.

“Lalu apakah kakek tahu tempatnya, apakah kakek dapat menolongnya” tanya Farid kembali.

“Aku tidak dapat menolong teman kalian, yang dapat menolong teman kalian hanya orang yang dating dari alam yang sama, yang dapat menolong hanya kalian berdua, tapi aku tahu dimana saat ini temanmu berada” kakek bercerita sambil menghela nafas pajang.

“Di mana Kek” lanjut Widodo penasaran

“Aku tidak tega, untuk menceritakan apa yang sedang dialami oleh teman” kalian

“Ceritakan pada kami Kek, kami siap mendengar cerita Kakek”

“Teman kalian terperangkap ke dalam alam yang sangat mengerikan yang sebenarnya letaknya tidak jauh dari sini, karena kecerobohannya sendiri. Dia di sana bangun, pingan dan bangun kembali begitulah seterusnya, hal ini karena apa yang dilihat dan di temuinya di alam sana. Kalau sampai malam tidak ada orang yang menolongnya, maka selamanya ia kembali” jelas kakek

“Apakah kami tidak terlambat kek, apakah teman saya masih dapat diketemukan” tanya Widodo

“Tentu tidak terlambat, tetapi hany akalian berdua yang dapat menolongnya. Oleh sebab itu segeralah kalian menyusul kesana. Tetapi sebelumnya, engkau Farid harus tetap ingat pada Allah, dan ingat pada pesan dalam mimpimu” pesan kakek

“Lalu, dimana kami dapat menemukan teman kami kek”

“Sebenarnya letaknya tidak jauh, di sebelah Candi Wayang yang berada di depan taman sebenarnya ada jalan bercabang, dari sini belok ke kanan, sebenarnya jalan itu berujung pada pohon dengan bunga yang sangat indah lebih indah dari lainnya dan buah yang sangat menggiurkan lebih menggiurkan dari yang lain. Akan tetapi aku percaya kepada, kalau engkau tidak akan tergiur dengan pohon itu. Kau masuklah ke sela-sela pohon, dengan tetap ingat kepada Allah segala sesuatu yang kau sentuh akan menjadi terang dan jelas. Dan do’aku selalu menyertai kalian. Selamat jalan cucuku. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian” kata kakek

“Assalamu‘alaikum, selamat tinggal kek” Farid dan Widodo segera melangkah menuju ke tempat dimana Agung terjebak. Langkahnya tergesa, karena mereka takut kehaduluhan malam datang. Pada Kakek itu Farid sengaja tidak bertanya mengapa Kakek tidak ingin keluar dari alam itu.

Dari pertigaan yang ada di sebelah taman, terlihatlah pohon dengan buah dan bunga yang lebih menakjubkan dari pohon-pohon yang lain yang berada di alam itu.

“Mungkin di sana itu, tempat yang dimaksud Kakek, Dok” kata Farid

“Kalau melihat ciri-cirinya sama, benar mungkin itu. Ayo kita segera kesana Rid” kata Widodo

Farid dan Widodo mempercepat langkahnya untuk menuju ke pohon yang dimaksud. Akan tetapi sesampai di depan pohon mereka bingung karena di sini tidak terlihat siapa-siapa juga jejakpun tidak ada. Farid termenung sambil membaca do’a-do’a dan dia berpikir. Ia teringat akan pesan kakek di peganglah pohon itu, maka secara aneh terlihatlah alam lain, alam yang mengerikan, penuh dengan sisa-sisa tubuh manusia atau tengkorak di dalamnya, terlihat Agung tergolek di antara tulang belulang manusia, namun tiada makhluk lain di tempat itu.

Widodo bergegas menghampiri dan membangunkan Agung. Agung terbangun, namun bingung setengah linglung dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya bahkan Agung tidak mengenal orang-orang yang ada di sampingnya.

“Siapa kalian, dan di mana aku sekarang?” tanya Agung

“Kami adalah temanmu, dan kau sedang tersesat di alam ini” jawab Widodo

Agung menolek kesana kemari, dengan wajah ketakutan.

Kemudian Farid mendekat, dan memegang tangan Agung “Kami adalah temanmu, apakah kau lupa” kata Farid

Keanehan kembali terjadi. Agung tiba-tiba ingat dan merangkul kedua temannya. Keanehan ini sesuai dengan pesan kakek, bahwa segala apa yang disetuh Farid akan menjadi terang.

“Mari kita segera meninggalkan tempat ini, jangan sampai kemalamam, teman kita sudah menunggu terlalu lama di luar sana” ajak Farid

“Memang berapa lama aku tersesat?” tanya Agung

“Sebeleum Aku masuk ke sini, kami sudah menunggu selama tiga hari di luar sana” kata Farid

“Ah, sudah tiga hari, aku merasa baru tadi pagi memasuki tempat ini” kata Agung

“Aku juga merasakan hal yang sama denganmu Gung” lanjut Widodo

“Memang kalian tidak masuk secara bersamaan?” tanya Agung

“Tidak Gung, aku masuk lebih dahulu, kemudia Farid menyusulku” jawab Widodo

“Teman, itu jalan dimana kita masuk sudah kelihatan, dan itu tali yang aku ikatkan pada perut Widodo. Ayo kita segera kesana” ajak Farid

Sementara yang terjadi di alam itu hari sudah mulai senja. Kita lihat dulu bagaimana keadaan Muchtar dan Pak Anwar

Hari-hari yang Muchtar lalui berdua dengan Pak Anwar, tidak ada perkembangan, menunggu dan menunggu. Sudah tidak terasa bahwa mereka telah memasuki hari kesembilanbelas penantian mereka sejak Agung pergi terlebih dahulu. Kalau orang lain mungkin tidak tahan, tapi Muchtar adalah pemuda yang penuh dengan pengalaman seperti ini. Sementara Pak Anwar sesekali pulang untuk menemui istrinya meninggalkan Muchtar sendirian menunggu. Hari itu Pak Anwar sedang menemani Muchtar.

“Sampai kapan kita alan menunggu Pak” kata Muchtar

“Sabar Dik Muchtar, mungkin besok atau lusa aku rasa mereka sudah kembali” hibur Pak Anwar

Hari itu mereka lalui dengan bercakap-cakap untuk menghilangan kebosanan. Tiada terasa hari sudah malam kemudian mereka tidur. Subuh mereka bangun kemudian sholat bersama. Setelah sholat mereka di kejutkan oleh langkah kaki orang dari arah sebelah kiri pohon, diikuti oleh salam.

Dalam keadan menunduk karena masih membaca do’a-do’a, mohon kepada Allah SWT, mereka kaget karena mereke mengenal suara orang di depan pohon besar yang jaraknya hanya satu meter dari mereka, yang mana suara itu tiba-tiba muncul. Keduanya menoleh ke arah datangnya suara secara bersamaan, dan membalas mengucapkan salam. Ternyata benar bahwa pemilik suara itu adalah Farid yang kembali bersama Agung dan Widodo yang perutnya masih terikat.

Mereka saling berjabat tangan untuk melepaskan kerinduan karena perpisahan yang merke alami..

“Sudah terlalu lama aku menunggu disini, aku hampir tidak tahan menunggu, tapi karena ingat akan persahabat juga karena pengalamanku, maka aku sabar menunggu kalian” kata Muchtar

“Memang berapa lama engkau menunggu kami?” tanya Agung

“Sudah memasuki hari yang ke duapuluh” jawab Muchtar

“Apaaaaaa, sudah selama itukah kalian menunggu kami, sedangkan aku hanya mengalami satu hari di alam sana, aku sungguh tidak mengerti tentang apa yang engkau katakan, Tar?” kata Agung heran dengan kejadian itu

“Benar, Dik Agung, kami memang sudah menunggu duapuluh hari setelah kepergianmu, meninggalkan teman-temanmu, aku yang menemani Muchtar selama tujuhbelas hari di sini, yang tiga hari sebelumnya masih ditemani oleh teman kalian, juga Dik Farid” jelas Pak Anwar

“Aku juga heran mengapa aku terikat lagi. Padahal di dalam sana ikatan pada perutku ini sudah terlepas” kata Widodo

“Sudahlah, mana aku lepaskan, mari kita turun meninggalkan tempat ini” sahut Farid yang sudah tidak heran lagi dengan apa yang dialami oleh Widodo

“Mari kita turun, kalian selakan mampir dan beristirahat di rumah kami” kata Pak Anwar

Merekapun turun menuju rumah Pak Anwar. Sesampai di rumah Pak Anwar Farid mohon ijin untuk meninggalkan mereka sebentar, untuk menelpon keluarga di surabaya guna memberitahukan keadaanya dan teman-temannya, juga tidak lupa menelpon Elfira. Sementara teman merka saling bercerita tentang kejadian itu. Candi Wayang mempunyai perbedaan waktu dengan dunia nyata. Di Candi Wayang hanya satu hari di dunia nyata sudah berjalan duapuluh hari. Itulah mengapa Kakek tua penunggu gua hanya meresa di alam sana selama tigapuluh tahun sejak peristiwa di Samiaji di Jaman Mojopahit sampai sekarang ini (tahun 1986), sementara yang terjadi di dunia kita sudah ratusan tahun lamanya (lima ratus sampai enam ratus tahun.

Setelah Sholat Dhuhur, mereka berempat kembali ke Surabaya, dengan membawa kenangan yang tidak pernah terlupakan. Kenangan akan Candi Wayang di Dunia Lain, yang mana menurut penduduk desa setempat ada waktu-waktu tertentu pintu gerbang Candi Wayang terbuka, yang biasanya tertutup oleh pohon yang tumbuh, di samping pohon besar itu untuk menghalangi orang masuk.

Mereka selamat sampai di rumah, yang mana menurut penduduk desa bahwa sesorang yang masuk ke sana tidak akan pernah kembali. Dan hal seperti itu sudah banyak terjadi. Makanya jalan menuju kesana tidak pernah dilalui oleh penduduk desa, walaupun pintu gerbang Candi Wayang jarang sekali terbuka.

Salam,
ridwan
01 Juli 2009 sby

Komentar :

ada 0 komentar ke “Candi Wayang”

Posting Komentar

Next previous home