Gadis di dalam Ranu Gumbolo

Gadis di dalam Ranu Gumbolo

Oleh : Ridwanto



Gerimis baru saja membasahi hutan semeru yang dipenuhi pohon-pohon rindang hijau nan indah, menambah hawa di daerah ini semakin dingin, mentari tidak menampakkan dirinya, langit masih mendung, namun tidak mengurungkan niat dua kelompok pendaki yang sedang berjalan meyusuri jalan setapak berbatuan yang menanjak, menuju ke danau Ranu Gumbolo. Tujuan mereka ke puncak Semeru. Di Ranu Gumbolo mereka akan beristirahat, di Ranu Gumbolo terdapat Pondok Pendaki.

Hutan di sekitar mereka sangat rimbun, yang terlihat hanya langit yang masih mendung, dan kanopi pohon-pohon yang tinggi menjulang. Tidak jarang mereka masuk ke dalam jalan harimau, jalan sempit yang hanya bisa dilewati satu orang dengan membungkuk, jalan itu berbentuk lingkaran yang dikelilingi pohon semak belukar melingkar. Sesekali mereka melihat pemandangan yang luas dan indah.

Mereka terdiri dari dua rombongan. Rombongan pertama dari kelompok Semut Ireng yang terdiri dari dua laki-laki dan tiga orang perempuan : Roni, Totok, Asih, Mintarti, dan Yayuk. Rombongan kedua terdiri dari empat orang yang kesemuanya laki-laki, mereka adalah Farid, Widodo, Setiawan, dan Suwadi

Kedua rombongan ini berjalan beriringan, rombongan Semut Ireng di depan disusul dengan rombongan empat pemuda. Semakin ke atas, udara terasa semakin dingin menusuk ke seluruh tulang-tulang. Saat itu sudah masuk waktu Ashar ke empat pemuda menghentikan langkahnya untuk sholat Ashar, ketika itu hampir sampai di Ranu Gumbolo, mereka berhenti pada suatu pelataran yang rata di bawah pohon yang rindang, dari sini pemandangan begitu indah. Dari sini terlihat Ranu Gumbolo yang diselimuti oleh kabut yang terlihat di jejauhan. Dari sini jalan menuju ke Ranu Gumbolo mulai menurun, karena Ranu Gumbolo terletak di suatu lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit.

Rombongan semut ireng meninggalkan rombongan empat pemuda yang dipimpin oleh Farid jauh di depan.

Usai sudah empat orang pemuda ini melaksanakan sholat Ashar. Mereka memandang jauh ke depan ke arah Ranu Gumbolo. Mereka melihat bahwa rombongan Semut Ireng mulai masuk ke dalam Pondok Pendaki Ranu Gumbolo. Segera mereka berempat mengayunkan langkahnya untuk menyusul rombongan Semut Ireng yang sudah beristirahat di Ranu Gumbolo terlebih dahulu, karena hari telah sore.

Mereka sudah tidak melewati jalan harimau lagi. Sepanjang jalan dari tempat mereka sholat menuju Ranu Gumbolo, mereka menikmati pemandangan yang indah. Karena pesona alam dan jalan yang menurun, tidak terasa mereka sudah sampai di depan Pondok Pendaki Ranu Gumbolo, tidak terasa mereka telah berjalan setengah jam dari tempat mereka sholat. Dan tidak terasa hari telah sore, udara semakin dingin, suhu sudah mendekati 0oC.

Di Ranu Gumbolo ini walaupun langit tidak mendung, jarang sekali terkena sinar mentari, karena letaknya di lembah yang dikelilingi bukit. Sinar mentari masuk mulai pukul 10.00 pagi dan hilang pukul 14.00 siang. Sehingga walaupun langit cerah, mentari bersinar Ranu Gumbolo tetap berhawa dingin, apalagi dalam keadaan yang sejak pagi langit mendung, dan danau Ranu Gumbolo diselimuti kabut.

Keempat pemuda itu masuk ke Pondok Pendaki Ranu Gumbolo, disambut oleh para anggota rombongan Semut Ireng yang telah datang lebih awal. Mereka menawarkan kopi hangat pada ke empat pemuda untuk mengusir rasa dingin Keempat pemuda ini beristirahat sambil berbincang-bincang dengan Semut Ireng.

Tak terasa segala aktivitas yang harus mereka lakukan sudah mereka lakukan, hari sudah malam, keempat pemuda itupun telah melaksanakan sholat Isya’. Malam itu langit mulai cerah dan kabut telah menghilang. Purnama datang menghiasi langit ditemani oleh taburan bintang-bintang yang membuat malam itu semakin indah. Namun keindahan itu tidak dapat mengusir hawa yang semakin dingin.

Keindahan malam itu dimanfaatkan oleh rombongan Semut Ireng. Sebagai pemuda pemudi yang telah tumbuh asmara di dalam dada mereka, merekapun menyendiri berpasang-pasangan. Roni dengan Wintarti, Totok dengan Yayuk. Sementara Asih yang memang belum punya pacar memilih menyendiri duduk dekat batu yang letaknya di tepai Ranu Gumbolo. Empat pemuda memilih beristirahat untuk memulihkan tenaganya, karena mereka harus sudah berangkat pukul 02.00 untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Semeru.

Hati yang sunyi seorang diri memandangi langit yang penuh bintang dan sinar purnama, membuat Asih yang seorang diri terbawah dalam lamunan. Angin sepoi-sepoi menyibak rambut yang panjang terurai, sinar purnama yang menempah wajahnya, membuat Asih semakin cantik terlihat. Asih memang paling cantik di antara kedua temannya yang telah berpasangan. Entah mengapa wajah secantik Asih masih sendiri.

Sesekali ia memandangi rembulan, sesekali ia memandangi air Ranu Gumbolo yang berkilau karena berombak kecil ditiup oleh angin dan cahaya terpantulkan oleh sinar rembulan.

Di dalam kekusyukan lamunannya, di dalam kekusyukan ia menikmati keindahan Ranu Gumbolo di malam hari, matanya tertuju pada sesuatu di tengah Ranu Gumbolo, matanya tertuju pada sesuatu yang bergerak, yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Kaget dan takutlah ia, apa yang telah ia rasakan sebelumnya pudar. Diri ingin berlari dan menjerit namun tidak kuasa. Sayub-sayub terdengar dari benda yang bergerak itu meminta pertolongan. Apa yang di dengarnya dengan sayub-sayub dan apa yang dilihatnya membuatnya semakin tidak percaya, bahwa sesuatu yang bergerak adalah seorang gadis dengan berteriak minta tolong. Semakin lama wajah, bentuk dan suara gadis itu semakin jelas.

Asih berusaha menenangkan dirinya, Asih bangkit berdiri berusaha menolong gadis yang ada di depan dengan hati yang sudah tidak diselimuti ketakutan lagi. Asih melangkah masuk ke danau yang sangat dingin namun seolah-olah Asih tidak merasa akan dinginnya air danau yang sedingin es. Muka Gadis itu terluka akibat benda tajam, juga pakaian bagian punggungan robek sekitar 20 centimeter sehingga terlihat punggung gadis itupun tersayat dengan lebar yang hampir sama.

Gadis itu dibopongnya ke arah pondok, terdengar lengkingan keras seperti lolongan gerombolan srigala yang kelaparan. Gadis itu meronta, lepas dari bopongan Asih, lari meninggalkan Asih menuju Ranu Gumbolo. Asih berusaha mengejar dan meraih gadis itu dari belakang, gadis itu lari dengan cepat dan berenang menuju ke tengah Ranu Gumbolo, Gadis itu menghilang di tengah Ranu Rumbolo. Asih yang ketika itu sampai di bibir Ranu segera menghentikan pengejarannya, diapun menjerit sekeras-kerasnya sambil memegangi sobekan baju dari gadis tadi.

Jeirtan Asih yang sangat keras ini mengagetkan empat pemuda yang sedang beristirahat di Pondok Pendaki yang letaknya tidak jauh dari Asih. Segera empat pemuda ini lari keluar Pondok menuju arah datangnya jeritan itu.

Mereka menjumpai Asih yang berdiri mematung di bibir Ranu sambil memandang ke arah tengah Ranu dengan wajah pucat pasih, dan keringat dingin bercucuran, bibir sedikit bergetar dan seluruh tubuh Asihpun kelihatan gemetar. Di tangan kanan Asih masih memegang sobekan kain.

“Apa yang terjadi denganmu di sini Asih, dan di mana teman-temanmu?” kata Farid sambil mendekat

Namun Asih tidak menjawab, Asih melihat bahwa yang mendekatinya adalah empat orang pemuda yang ia kenal, Asih segera memeluk Farid yang berada paling dekat dengannya, sambil terisak-isak keluar air matanya, pandangannya kesana-kemari seperti orang ketakutan.

“Baiklah kita masuk ke pondok, dan ceritakan pada kami apa yang terjadi!!” kata Farid sambil mengajak Asih masuk ke Pondok Pendaki diikuti oleh ketiga teman Farid.

Sesampai di dalam Pondok, setelah Asih dapat menguasai dirinya, Asihpun bercerita tentang apa yang telah menimpa dirinya. Asih bercerita dengan jelas. Aneh, semua yang di dengar oleh Asih dengan keras dalam ceritanya, tidak di dengar oleh empat pemuda itu. Agaknya empat teman Asih yang sedang memadu cinta juga tidak mendengar akan hal tersebut.

“Lalu kemana perginya temanmu sekarang ini!!” tanya Farid

“Mereka pergi berpasangan-pasangan untuk menikmati malam yang indah ini, katanya tidak jauh dari sini” jawab Asih

“Mengapa mereka tidak mendengar, waktu engkau berteriak minta tolong?” tanya Farid kembali

“Aaakuuu, sendiri tiii... daaak tahu akan hal itu” jawab Asih.

“Baiklah, aku ditemani Suwadi akan mencari teman-teman Asih, sementara engkau Dok bersama Setiawan menunggu di sini menemani Asih sampai kami datang” kata Farid

“Kalian pergilah, aku dan Setiawan akan menjaga Asih” kata Widodo

Farid segera menyambar jaketnya yang tergantung di tiang yang berada di dalam Pondok, Farid melangkah keluar Pondok diikuti oleh Suwadi. Farid dan Suwadi berlajan dalam udara yang sangat dingin. Mereka coba mencari di balik pohon, dibalik semak yang rindang yang sekiranya asyik untuk pemuda-pemudi yang memadu kasih, setelah lama mencari akhirnya di balik danau mereka menemukan sepasang teman Asih. Segera Farid dan Suwadi menghampirinya dan mengajak mereka kembali.

“Mana kedua teman kalian yang lain, Totok dan Yayuk, aku belum menemukan mereka?” tanya Farid

“Mereka berada tidak jauh dari sini, di bawah pohon itu mereka duduk berdua” jawab Roni

“Ron, kalian kembalilah ke Pondok terlebih dahulu, biar kami yang akan menjemput Totok dan Yayuk. Sesuatu telah menimpah Asih, dan kini ia masih terpengaruh oleh kejadian itu. Tapi jangan kawatir, Asih ditemani oleh Widodo dan Setiawan. Yang perlu kalian lakukan adalah segera kembali ke Pondok!!!” pinta Farid

“Apa yang terjadi pada Asih” tanya Roni

“Sudahlah, nanti engkau tanyakan saja pada kedua temanku di pondok” jawab Suwadi yang segera meninggalkan mereka berdua karena mengejar Farid yang telah melangkah menuju tempat Totok dan Yayuk menghabiskan waktunya.

Mereka berdua bertemu Totok dan Yayuk lalu diajaknya bersama untuk kembali ke Pondok.

Sampai di pondok hampir pukul dua pagi, Asih telah segar kelihatannya dan sudah tidak takut lagi, bahkan sesekali sudah dapat tertawa kecil yang membuat Asih semakin terlihat cantik bak Bunga di Malam yang dingin.

“Baiklah teman, kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak Semeru jam dua sebentar lagi. Apakah kamu ikut dengan kami, ataukah di sini, ataukah kita semua kembali ke Ranu Pane” Farid menawarkan pada Asih

“Aku sebenarnya tidak takut lagi, dan tidak mau merepotkan kalian. Akan tetapi karena aku baru mengalami sesuatu, kiranya aku di sini saja menunggu kalian, tetapi aku minta seorang teman untuk menemaniku hingga kalian semua kembali” kata Asih

“Lalu siapa yang akan tinggal di sini menemani Asih, kami akan kembali nanti siang” kata Farid

“Aku akan menemani Asih” kata Yayuk

“Aku juga akan menemani Asih” kata Mintarti

“Harus ada seorang laki-laki untuk menemani kalian bertiga di sini” Kata Widodo

“Lalu siapakah orangnya” kata Setiawan

“Baiklah, aku yang akan menemani mereka” jawab Widodo

Berangkatlah mereka berlima yang semuanya laki-laki untuk melanjutkan mendaki puncak Semeru. Sementara yang tinggal di pondok, Asih, Yayuk, Mintarti dan Widodo satu-satunya laki-laki.

Pada waktu itu memang tidak ada pendaki lain yang sedang mendaki. Sehingga hanya rombongan merekalah yang melakukan pendakian.

Hari berganti pagi, gelap segera berlalu berganti dengan terang, mereka berempat menunggu teman-temannya dari puncak sambil melakukan aktivitas yang biasa dilakukan para pendaki, mencari kayu bakar, memasak air dan nasi, juga memasak untuk persiapan teman-temannya waktu datang.

Tidak terasa detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam mereka lalui pada diri dua pemudi Yayuk dan Mintarti tidak terjadi sesuatu apapun, namun pada diri Widodo dan Asih sedang terjadi asmara yang mulai bergejolak, getar-getar asmara mulai berkecamuk, dan benih-benih cintah terhadap Asih mulai tumbuh di hati Widodo, karena melihat Asih yang cantik, jauh lebih cantik dari kedua temannya yang telah mempunyai pacar. Pada diri Asih juga mulai suka akan Widodo yang dengan sabar selalu menemaninya yang waktu itu belum hilang sama sekali pengaruh akan kejadian tadi malam. Inilah alasan mengapa Widodo mengajukan diri untuk menemani Asih, tidak memilih untuk ikut dengan sahabatnya melanjutkan mendaki ke Puncak Semeru.

Pada pukul 13.00 siang terlihatlah dari kejauhan lima teman mereka berjalan menurun bukit menuju mereka. Merekapun segera mengemasi seluruh barang mereka sebagai persiapan kembali ke desa Ranu Pane.

Setelah mereka berlima melepas lelah dan segar kembali. Merekapun segera meninggalkan Ranu Gumbolo, dengan membawa bukti sobekan baju gadis yang disimpan dalam saku Asih.

Perjalanan kembali ke desa Ranu Pane telah mereka lewatkan selama dua jam, hari telah sore, tiba-tiba Asih menjerit, Asih melihat bayang-bayang Gadis Ranu Gumbolo mengikuti langkahnya, segera semua temannya menenangkannya.

“Ayo lebih cepat lagi kita melangkah, agar tidak kemalaman di jalan ini. Dok kamu selalu jaga Asih” kata Farid

Kali ini Widodo menggandeng Asih, agar Asih tidak takut di sepanjang jalan menuju desa Ranu Pane. Tetapi Asih masih menoleh kesana kemari, seakan masih ada yang mengikutinya.

Menjelang Maghrib rombongan itu memasuki desa Ranu Pane, segera mereka semua menuju ke rumah sesepuh desa. Empat pemuda yang dipimpin Farid mohon ijin untuk melaksanakan sholat setelah mereka semua masuk ke rumah sesepuh desa.

Segera setelah melaksanakan sholat, Farid menceritakan kejadian yang menimpa Asih. Di sini Asih kembali tenang.

“Aahhh, kalian ditemui oleh gadis itu??” kata sesepuh desa, Pak Tumari dengan kaget

“Bukan kami semua pak, tapi hanya Asih yang ketika itu duduk seorang diri” jawab Farid

Kemudian Asihpun menceritakan kejadiannya pada Pak Tumari.

“Celaka, teman kalian telah menyimpan benda peninggalannya” kata Pak Tumari

“Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk mengambil benda ini, tidak bermaksud pula untuk menyimpannya, hanya sebagai bukti kalau-kalau kami dikatakan mengigau tentang kejadian itu” kata Farid menyangga

“Bukan begitu, aku percaya akan cerita itu walau tanpa bukti sekalipun, karena telah banyak kejadian seperti ini di alami oleh pendaki. Hanya wanita yang duduk menyediri di malam hari di bulan purnama saja yang selalu mengalami kejadian seperti temanmu ini. Akan tetapi barang berupa sobekan kain yang dibawa temanmu harus di kembalikan ke Ranu Gumbolo tempatnya semula” kata Pak Tumari

“Lalu Apa yang harus kami perbuat, apakah malam ini kami harus kembali ke Ranu Gumbolo untuk mengembalikan sobekan baju ini” tanya Farid

“Tidak usah, malam ini biarlah kalian beristirahat saja, lalu besok pagi kalian boleh pulang, biarlah aku sendiri yang akan mengantarkan sobekkan baju itu besok pagi, karena akupun punya rencana untuk ke Ranu Gumbolo” Kata Pak Tumari
“Terima kasih Pak. Lalu siapakah gerangan gadis dalam Ranu Gumbolo itu pak??” tanya Farid

Pak Tumari menghela nafas panjang yang berat “Kejadiannya sudah lama sekali, anak muda, tapi baiklah aku akan bercerita tentang kejadian itu”

Sekitar tigapuluh tahun yang lalu ketika pak Tumari masih muda, datanglah empat orang pemuda dua laki-laki dan dua perempuan. Seorang pemuda dan seorang pemudi memang telah menjadi pasangan dan saling jatuh cinta. Yang seorang pemuda dan pemudi lainnya belum terjalin hubungan asmara di antara keduanya. Mereka melakukan pendakian berempat menuju Ranu Gumbolo. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk asmara lupa daratan terbuai oleh madunya asmara, terbuai oleh indahnya rayuan di antara keduanya, merekapun melakukan hubungan mesum. Sementara seorang pemuda yang masih sendirian, melihat hal ini birahinya bangkit, ia mendekati pemudi satunya. Agaknya dalam diri pemudi ini juga mulai tumbuh benih asamara. Sang pemudapun mengobral rayuan, semakin lama rayuan dikeluarkan oleh mulutnya yang manis, semakin besar pula hasrat untuk melakukan hal yang sama dengan temannya, semakin besar pula nafsu birahi yang menguasai hatinya. Mereka adalah Remaja yang tidak pernah mengingat Allah SWT, hanya remaja putri yang satu itulah yang masih tersisa sedikit ingatan akan Allah SWT. Si pemuda berusaha mengajak si pemudi melakukan hal yang sama yang sedang dilakukan oleh kedua temannya, namun pemudi itu menolak. Nafsu birahi telah mencapai puncaknya, nafsu setan telah menguasai diri pemuda itu, dengan kejam dia memperkosa gadis teman seperjalannya, Gadis itu meronta lari sebelum sesuatu yang paling berharga pada dirinya direnggut si pemuda. Si pemuda mengejarnya, sambil mengeluarkan senjata untuk mengancam si gadis agar menuruti nafsu yang menguasainya, Pedangpun disabetkan mengenai punggung Gadis. Gadis itu menjerit-jerit minta tolong. Mendegar kegaduhan yang ada sepasang pemuda-pemudi yang tadinya asyik dimabok asmara, segera menghampiri sang Gadis untuk menolongnya. Namun karena gelap mata maka pemuda yang sedang di puncak syahwatnya ini menyabetkan pedangnya pada pasangan yang mencoba menolong si Gadis, sehingga pasangan itu mengalami luka bacok pada tangan mereka masing-masing. Sementara si Gadis terus lari menuju Ranu Gumbolo, dan sepasang pemuda lari ke turun ke desa. Gadis itu terus berlari, dan terus berlari sampai tidak kelihatan sama sekali di telan oleh danau Ranu Gumbolo yang airnya sangat dingin. Sementara sang pemuda yang di puncak syahwat menjadi sangat bingung akan ia yang ditinggalkan oleh gadis itu, juga ditinggal sendirian oleh kedua temannya untuk melaporkan kejadian itu ke desa Ranu Pane. Ia lari kesana kemari, lari mengitari Ranu Gumbolo untuk mencari gadis itu, namun sang gadis tidak pernah terlihat lagi. Bingung akan apa yang akan ia pertanggungjawabkan nanti, iapun menusukkan pedangnya ketubuhnya mengakhiri hidupnya. Selang beberapa jam pada hari yang sama penduduk desa ramai-ramai datang, untuk memberi pertolongan, namun mereka terlambat, si pemuda terbujur kaku dengan darah di sekujur tubuhnya, dan sebilah pedang menancap di perutnya, sementara si gadis lenyap seakan ditelan danau Ranu Gumbolo, mayat si gadis sampai sekarang belum ditemukan. Sampai sekarang sering menghantui seseorang gadis yang sedang duduk termenung seorang diri di tengah malam.

Pagi hari menjelang, kedua rombongan itu segera pamit untuk kembali ke kota mereka. Kemudian Pak Tumari melakukan apa yang telah ia janjikan kepada rombongan pemuda itu, mendaki ke Ranu Gumbolo untuk mengembalikan sobekan baju si gadis.

Segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini atas kehendak atau seijin Allah, mari kita kembalikan semuanya kepada Allah, dengan cara berpasarah dan tawakal apabila kita mengalami cobaan.

Demikianlah, karena ingat akan hal tersebut, maka Asih dapat melalui hari-hari selanjutnya dengan normal, dan menyerahkan semua kepada Allah. Dia tidak pernah dibayang-bayangi lagi. Dia sudah jauh dari Ranu Gumbolo. Akan tetapi sesekali iapun mengikuti kelompoknya untuk kembali mendaki ke puncak Semeru, yang mana pada waktu itu, ia belum sempat sampai ke Puncak

Nyamuk, Air dan Manuk


Tersebutlah seorang Lurah yang mempunyai seorang gadis yang sangat cantik jelita. Kecantikannya akan membuat semua pemuda tidak akan berpaling bila ia memandangnya. Kecantikannya terkenal bukan hanya di desa dimana pak Lurah memimpin, tetapi bahkan jauh di luar desa.

Pak Lurah adalah orang yang sangat terkenal di desa dengan kedermawanannya. Pak Lurah juga sangat disegani oleh warganya, apa yang diperintahkan Pak Lurah, warga selalu mengerjakannya dengan tangan terbuka.

Kecantikan putrinya inilah yang pada suatu ketika membuat seorang pemuda yang memang suka iseng ingin mencoba keberuntungan di rumah Pak Lurah. Pemuda ini mempunyai wajah yang lumayan, dan perilaku yang sopan, namun dibalik kesopanannya ia mempunyai maksud tidak baik kepada putri Lurah yang cantik jelita.

Pada suatu sore pemuda ini bertamu ke rumah Pak Lurah, yang ketika itu Pak Lurah memang sedang ada di rumah tidak di balai desa.

“Permisi, selamat sore” kata pemuda

Pak Lurah menuju pintu karena mendengar ada tamu

“Ada keperluan apa, wahai pemuda, sehingga sore ini engkau menemuiku?” kata Pak Lurah

“Saya sedang mencari seseorang yang bernama, Mat Ruji, Pak Lurah, akan tetapi setelah berputar-putar di desa ini seharian saya tidak menemukannya” kata si pemuda

“Pak Ruji sudah pindah sebulan yang lalu, dan pindah jauh keluar kota. Lalu adik berasal dari mana?” kata Pak Lurah

“Saya berasal dari luar pulau Pak Lurah, pulau yang sangat terpencil dan sangat jauh dari pulau ini, kapalpun adanya seminggu sekali. Apakah Pak Lurah tahu alamat Pak Mat Ruji yang sekarang ini?” tanya si pemuda

“Saya sih kurang tahu yah, dik” jawab Pak Lurah

“Siapa ya Pak, yang tahu akan alamat Pak Mat Ruji?” tanya pemuda itu lagi.

“Saya juga tidak tahu akan hal itu, maafkan saya” jawab Pak Lurah

“Lalu rencana adik ke mana?” tanya Pak Lurah

“Entahlah Pak Lurah, mencari rumah Pak Mat Ruji juga tidak tahu alamatnya, mau pulang ke rumah, kapalnya juga masih seminggu lagi, saya bingung Pak Lurah” keluh pemuda

“Kalau adik mau, adik boleh bermalam di sini sambil menunggu kapal, daripada di jalanan tidak karuan” kata pak Lurah

“Baik pak, saya sangat senang dan berterima kasih sekali pada pak Lurah”

“Oya aku belum tahu, siapa namamu anak muda?”

“Nama saya Manuk, pak Lurah” jawab pemuda

“Masak namamu Manuk anak muda?” kata pak Lurah tidak percaya

“Iya, mengapa dengan namaku itu pak Lurah?” jawah pemuda

“Di desa kami nama seperti itu adalah sebuah nama yang dipakai untuk sesuatu yang dimiliki orang laki-laki saja, dan nama itu tabu untuk diucapkan” jelas pak Lurah

“Benar pak memang itu nama saya, di daerah saya berasal nama seperti itu banyak di gunakan oleh kaum lelaki, nama itu adalah nama hewan. Manuk berarti burung Pak Lurah. Saya dengar di daerah ini nama hewan juga dipakai untuk nama orang, misalnya Gajah, Lembu, Kebo dsb” jelas si pemuda

“Baiklah anak muda, sekarang engkau beristirahatlah karena kau telah menempuh perjalanan yang jauh. Tapi sebelumnya silahkan engkan mengenalkan diri terlebih dahulu kepada Istri dan anakku yang berada di dalam” kata pak Lurah

Pemuda ini sebenarnya tahu bahwa Pak Mat Ruji telah pindah dan tidak ada seorangpun di desa itu yang tahu akan alamat pak Mat Ruji. Pemuda itu juga bukan berasal dari luar pulau yang jauh, pemuda itu hanya seorang pemuda yang iseng dari desa tetangga, sengaja datang untuk iseng kepada putri pak Lurah yang cantik Jelita.

Segera pemuda itu menemui Istri pak Lurah dan mengenalkan diri dengan nama Air. Kemudian Bu Lurah menyuruh pemuda itu mengenalkan diri pada putrinya. Pemuda itupun segera menemui putri pak Lurah dan mengenalkan diri dengan nama Nyamuk.

Sudah dua hari pemuda itu di rumah pak Lurah. Setiap hari pemuda itu tidak melewatkan waktunya untuk selalu memperhatikan putri pak Lurah.

Suatu pagi ketika pemuda itu akan ke kamar mandi, ia melewati kamar putri Lurah. Kamarnya setengah terbuka, dan putri lurah sedang ganti baju. Ini adalah pemandangan yang membuat setiap lelaki tidak akan melewatkannya. Pemuda itu tergoda hatinya melihat kecantikan dan kemolekkan tubuh putri pak Lurah. Dia masuk untuk mencoba memuaskan nafsu birahinya. Akan tetapi putri Lurah yang tahu akan kedatangan sang pemuda, berteriak keras sebelum pemuda sampai menjamah tubuhnya.

“Bu, toloooong, Nyamuk Bu!!!” jerit putri Lurah

Bu Lurah yang ada di kamar sebelahnya langsung menghampiri dengan membawa semprotan Nyamuk. Bu Lurah terkejut ketika melihat pemuda itu ada di kamar putrinya. Pemuda itu melawan, dan Bu Lurah Menjerit

“Toolloong, toolloong, Pak, Air, Air, Air, Pak???” teriak bu Lurah dengan keras

Pak Lurah datang dengan membawa air dan menyiramkan ke arah Bu Lurah

“Pak, mengapa bapak menyiram kami??” kata bu Lurah

“Katamu air, aku kira ada kebakaran di kamar ini” kata pak Lurah

Namun ketika bu Lurah belum sempat menjelaskan pada pak Lurah, pemuda itu segera kabur dari jendela kamar.

“Kejar dia pak, dia berbuat kurang ajar pada putri kita!!!” pinta bu Lurah

Segera pak Lurah mengikuti pemuda itu untuk menangkapnya. Pengejaran Pak Lurah sampai di sebuah pasar yang ramai, di mana di pasar itu seluruh penjual dan pembeli mengenal pak Lurah.

“Pegang Manuk, Pegang Manuk, Pegang Manuk!!!” seru Pak Lurah keras

Segera semua orang laki-laki yang ada di situ memegangi miliknya sendiri-sendiri, sementara ibu-ibu bingung, clingukan, apa yang harus dia pegang, karena mereka tidak memiliki apa yang dipunyai orang laki-laki.

Pada saat itu pak Lurah sedang berada di depan penjual lombok, sekali lagi pak Lurah berteriak keras “Pegang Manuk, Pegang Manuk, Pegang Manuk!!!” dengan nada setengah marah.

Segera penjual lombok yang kebetulan Pria memegangi miliknya. Pak Lurah marah karena beliau merasa sejak tadi berteriak-teriak, tidak ada satu orangpun yang mengindahkan teriakan beliau.

“Hei kamu penjual lombok, mengapa kamu tidak mematuhi perintahku??” hardik pak Lurah

“Maaf Pak, bukankah Bapak menyuruh kami untuk memegangi Manuk, dan itu sudah saya lakukan, lalu apa salah saya pak??” jawab penjual lombok dengan muka yang mercing-mercing menahan rasah panas dan dia menoleh ke miliknya yang setengah merah karena wedangen (kepanasan) akibat lombok.

Pak Lurahpun menoleh ke arah dimana penjual lombok menoleh, dan pak Lurah baru sadar bahwa yang dimaksud Manuk di sini adalah sesuatu yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Setengah malu pak Lurah meminta maaf, kemudian pulang. Dan sang pemuda melenggang kabur.

Candi Wayang

Candi Wayang Sebuah Dunia Lain di Samiaji

Oleh : Ridwanto



Langit cerah, udara sejuk terasa. Pemandangan yang indah yang dipenuhi dengan dedaunan hijau yang rimbun, daun padi yang mulai menguning mengiringi langkah rombongan pemuda untuk mendaki ke Samiaji yang terdiri dari lima orang laki-laki dan satu perempuan.

Hari menjelang senja, rombongan pemuda pendaki itu menghentikan langkahnya di depan sebuah Masjid, untuk beristirahat, dan sebagian lagi melaksanakan sholat Maghrib. Setelah sebagian anggota selesai melaksanakan sholat dan lelah telah berganti dengan segar akibat hawa yang ada di desa itu. Setelah mengecek semua perbekalannya mereka mengayunkan kaki mulai melakukan perjalanan mendaki.

Suara burung memang sudah tidak terdengar, matahari sudah tidak menampakkan lagi dirinya, namun malam itu sangat indah, langit cerah, bulan purnama berseri, gemerisik suara angin yang menyambar dedaunan mengiringi langkah mereka mendaki dengan penuh semangat.

Mereka berjalan beringinan, tak terasa sudah sampai di kebun jangung, di atas kebun jagung jalan mulai bercabang, mereka mengambil jalan ke kanan, jalan ini adalah jalan yang salah, hal ini karena mereka tidak waspada, terlalu bersemangat dan riang dengan suasana yang ada.

Setelah kira-kira satu kilometer dari persimpangan di atas kebun jagung, mereka menghentikan langkahnya pada jalan yang mulai menurun dan tidak berbatu, dengan pemandangan lebih indah dari yang mereka lalui sebelumnya, walaupun pada waktu itu sudah malam, namun malam itu malam purnama.

“Sepertinya kita salah jalan” kata Farid yang menjadi pimpinan

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa kita salah jalan” sahut Elfira satu satunya anggota perempuan

“Aku tidak pernah melihat pemandangan yang begitu indah seperti ini” jawab Farid

“Mungkin kamu tidak pernah ke sini pada waktu bulan purnama” Elfira melanjutkan

“Aku sering mendaki di gunung ini, bahkan aku pernah mendaki pada saat bulan purnama” jelas Farid

“Benar kita memang salah jalan, aku juga sering mendaki ke sini bersama Farid” Widodo menambahkan

“Baiklah, kita memang salah jalan, kita kembali lagi ke persimpangan yang telah kita lalui tadi, tapi sebelumnya kita istirahat di sini sebentar untuk melepas lelah”

Bulan purnama yang indah, cuaca yang terang, langit yang penuh dengan bintang-bintang membuat mereka terlena, melupakan keadaan dirinya yang salah jalan, hawa sejuk yang sangat nyaman membuat mereka semua terkantuk dan secara bersamaan mereka tertidur.

Dalam tidur mereka, pada seorang pemuda yang bernama Agung hadirlah sebuah mimpi yang aneh, Agung bertemu dengan kakek yang sangat tua, kakek itu berkata :

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah”

Agung terbangun dari mimpinya kemudian menelusuri jalan dalam mimpinya, setelah bertemu pohon besar, Agung berjalan mbrasak di sebelah kiri pohon. Tidak sadar bahwa dirinya telah masuk ke alam lain, ke alam Ghoib, Agung masuk ke daerah Candi Wayang yang bila seseorang masuk kesana akan sulit untuk kembali ke alam nyata.

Bukan hanya Agung saja yang bermimpi, akan tetapi Farid juga bermimpi hal yang sama, akan tetapi kakek berkata lebih lengkap dalam mimpi Farid :

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah. Jangan kalian lewat dari sebelah kiri pohon, kalaupun terlanjur, hanya yang selalu ingat kepada Allah yang akan dapat membimbing kalian kembali pulang”

Farid bangun, dan termenung memikirkan apa maksud dari mimpinya itu. Kemudian dia membangunkan teman-temannya, akan tetapi Agung tidak ada di tempat.

“Apakah kalian tahu, kemana Agung pergi” tanya Farid

“Tidak tahu” jawab teman-temannya.

“Baiklah kita tunggu sebentar, kemudian kita akan kembali ke persimpangan yang tadi” lanjut Farid

Semua tidak tahu kemana perginya Agung, seteleh lama ditunggu Agungpun tidak kunjung datang juga.

“Mari kita cari di sekitar sini, mungkin akan bertemu dengan Agung”

Setelah dicari di sekitar tempat mereka, Agung tidak diketemukan, mereka hanya menemukan jejak kaki yang menuruni jalan di depan mereka yang berlawanan dengan arah mereka akan kembali. Merekapun mengikuti jejak kaki itu, sampailah di depan mereka sebuah pohon besar yang rindang, dan jejak kaki itu melewati jalan yang sebenarnya bukan jalan setapak, sebelah kiri pohon.

“Hem inilah jalan dan pohon yang ada di dalam mimpiku itu” pikir Farid

“Berhenti, jangan mengikuti jejak kaki itu, kita lewat dari sebelah kanan pohon saja”

Mereka lewat dari sebelah kanan pohon, mengitari pohon besar itu, ternyata jejak kaki terputus di sana, akan tetapi apabila dilihat dari arah mereka datang jejak kaki itu jelas kelihatan. Keanehan ini membuat mereka merasa ketakutan.

Mereka kemudian melanjutkan mencari lewat dari sebelah kanan pohon, akan tetapi kali ini mereka tidak mengitari pohon. Mereka berjalan terus menyusuri jalan setapak tanpa batu yang itu. Memang benar pemandangan di sini begitu indah, walaupun waktu itu malam hari, hal ini karena sinar bulan purnamalah yang membuat pemandangan menjadi indah.

Setelah berjalan cukup lama mereka sampai pada padang rumput yang luas, dengan pemandangan yang menakjubkan, padang rumput ini dikelilingi oleh tebing, jalan masuknya hanya satu yaitu jalan yang telah mereka lalui, sekaligus menjadi jalan keluar dari lembah ini. Agungpun tidak ada di sana.

“Benar, semua sama persis dengan yang ada dalam mimpiku” gumam Farid

Setelah lama mencari di lembah itu akan tetapi Agung tidak di ketemukan, bahkan lembah ini sepertinya tidak pernah atau jarang sekali didatangi orang.

“Mari kita kembali ke pohon besar tadi, sepertinya Agung melewati jalan yang ada disebelah kiri pohon besar tadi” ajak Farid

“Kita tadi kan sudah mengitari pohon besar tadi, Agungpun tidak ada di sebelah sana” tanya Widodo tidak percaya.

“Ya memang, kita telah mengitari pohon besar itu, tetapi tidak dari sebelah kiri pohon” Farid menegaskan

“Apa bedanya melewati pohon besar dari sebelah kanan, dibanding dengan dari sebelah kiri?” tanya Muchtar penasaran

“Saya kira ada bedanya” jawab Farid

“Apa bedanya, katakan pada kami?”, sahut Takim anggota yang termuda ini dengan penasaran.

“Saya sendiri juga tidak yakin, tapi menurut saya ada bedanya, karena mungkin hal ini berhubungan dengan mimpi saya waktu kita semua tertidur” jawab Farid

“Ceritakan apa mimpi kamu pada kami!!” seru semua anggota secara serempak.

Kemudian Farid menceritakan mimpinya yang aneh itu, di mana dalam mimpinya dia bertemu dengan seorang kakek tua yang memberikan wejangan aneh kepada dirinya.

“Apa salahnya kita, mencoba melewati jalan yang ada di sebelah kiri pohon besar itu” kata Muchtar

“Masalahnya, siapa yang berani lewat dari sebelah kiri pohon besar itu?” tanya Farid

“Baiklah aku yang akan lewat ke sana” tantang Widodo

“Boleh kau lewat di sana akan tetapi, terlebih dahulu ikatkan tali yang panjang ini ke perutmu, sementara kami semua nanti akan memegangi tali dan mengulurkan tali itu, agar kami semua tidak kehilangan kamu” jelas Farid

“Ayo mari kita kembali ke pohon itu, segera kita lakukan hal tersebut agar Agung segera kita temukan”

Hari sudah menjelang subuh, mereka berlima segera menuju ke pohon yang besar itu, untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan untuk mencari keberadaan Agung. Kemudian mereka segera mengikat perut Widodo dengan tali yang panjang.

“Bagaimana, apakah kamu siap siap, Dok?” tanya Farid

“Oke, aku sudah siap, aku akan berjalan di sebelah kiri pohon ini, pegangi dan ulurkan tali ini”

Widodopun berjalan dari sebelah kiri pohon, sedangkan Farid memegangi tali dan mengulurkan bersamaan dengan berjalannya Widodo.

“Tolong kalian lihat dari sebelah kanan pohon”

Mereka bertigapun bergegas melewati sebelah kanan pohon, untuk melihat apa yang terjadi, namun keanehan terjadi di sisni. Bahwa Widodo tidak terlihat sama sekali dari samping kanan pohon, padahal Widodo sepertinya sudah berjalan melewati pohon tapi dari samping kiri. Juga Farid sudah tidak melihat Widodo lagi. Merekapun mengitari pohon dari samping kanan.

Mereka terperanjat, kaget, dan takut, dengan jantung berdebar, seluruh tubuh gemetar dan muka mulai pucat, ketiga pemuda lari menghampiri Farid yang memegang tali, namun dari tempat Farid Widodo juga tidak kelihatan sama sekali, bahkan tali itu seakan putus ketika melewati pohon besar itu. Faridpun mengalami hal yang sama dengan teman-temannya sehingga tali itu terlepas dari pegangannya, namun tali itu berhenti berjalan seakan Widodo lepas dari tali tersebut.

“Widodo, telah masuk ke dalam alam lain, agaknya Agung juga masuk ke sana bila kita melihat dari jejak sepatunya” kata Farid dengan Wajah yang pucat demikian juga teman-temannya.

“Lalu apa yang akan kita lakukan, apakah kita akan menunggu di sini, sampai kapan?” selah Muchtar

“Entahlah Tar, aku sendiri binggung, apa yang akan kita lakukan, kalau salah satu dari kita masuk ke sana, maka akan mengalami hal yang sama” dalam kepanikan Farid lupa akan mimpinya.

Takut akan keadaan di sekitar mereka, bingung apa yang akan mereka lakukan untuk menolong dua orang temannya dan cemas akan nasib kedua temannya yang masuk ke alam lain, bercampur menjadi menjadi satu membuat mereka berempat hanya duduk termenung, dengan seluruh tubuh yang gemetar semakin kencang, dan wajah mereka semakin pucat pasih.

Bagaimana nasib Agung, kita sudah meninggalkan begitu lama.

Seteleh bangun dari tidurnya yang mendapatkan mimpi, Agung melangkahkan kakinya mbrasak melewati sebelah kiri pohon besar, antara sadar dan tidak. Sebenarnya jalan di sebelah kiri pohon adalah pintu menuju ke alam lain

Baru masuk ke dalam alam lain itu, Agung mendengar bisikan dengan suara seorang kakek, kakek berkata dalam bisikannya yang halus dan lembut, tetapi sangat jelas terdengar di telinga Agung

“Selamat datang di alam yang menakjubkan, alam yang penuh dengan keindahan juga sangat menakutkan. Keindahan, keheningan dan keangkeran berpadu menjadi satu. Janganlah kamu tergoda oleh sesuatu yang lebih indah dan menakjubkan dari yang lain, karena kamu akan terbawa pada alam yang sangat menakutkan dan mengerikan”

Alam yang begitu indah menakjubkan membuat Agung lupa akan bisikan halus itu. Alam yang dipenuhi dengan bunga yang beraneka ragam mempesona, juga buah-buahan yang ranum dan mulai masak, menggiurkan. Ada sebuah pohon, dengan bunga yang sangat indah lebih indah dari yang lainnya, pohon ini juga berbuah lebih menggiurkan dari buah-buah yang lain. Agung tidak pernah melihat pohon yang berbunga dan berbuah seperti ini. Agung melangkah maju bermaksud memetik bunga dan buah tersebut.

Agung tidak mengetahui, bahwa di balik pohon tersebut segala jenis makhluk halus, mulai dari wewe gombel, sundel bolong sampai dengan makhluk yang mempunyai bentuk tidak karu-karuan sedang mengintainya.

Ketika Agung memegang bunga itu, maka tiba-tiba di selilingnya berubah menjadi alam yang sangat menakutkan. Di hadapannya berdirilah sesosok wanita dengan muka pucat pasih dan ketika berbalik punggungnya berlubang. Agung sangat ketakutan dan gemetaran, dia berlari tanpa melihat arah meninggalkan perempuan itu, namun ketika ia berlari ia bertemu, bertabrakan dengan makhluk lain, makhluk yang hanya tinggal kepalanya saja, sedangkan bagian tubuhnya terdiri dari usus yang bergelantungan, makhluk ini tidak berkaki, makhluk ini berjalan seperti terbang, menghampiri Agung.

Belum redah rasa takut di hati Agung sekarang harus bertemu dengan makhluk lain yang lebih mengerikan, apalagi dari arah lain terdengar suara lolongan srigala juga terdengar suara tangisan bayi, menambah takut hati Agung. Agung berusaha lari ke tempat lain meninggalkan makhluk itu, lagi-lagi dia bertemu dengan makhluk lain yang juga sangat mengerikan.

Suasana yang sangat mencekam, juga makhluk-makhluk lain yang ditemui Agung membuat ia tidak kuat menahan ketakutan dan kengerian ini, diapun akhirnya pingsan. Namun setelah bangun, kembali ia dihadapkan oleh peristiwa yang sama, ia bertemu dengan makhluk mirip dirinya akan tetapi seluruh wajahnya penuh dengan luka yang dikerubungi ulat, dan perutnya terbuka, sebagian dari ususnya keluar, kaki yang tidak beralas, sebelah kiri hanya terlihat tulangnya saja yang sebeleh kanan penuh dengan lukah yang bernanah. Apa yang dilihat di depannya sangat menakutkan, mengerikan dan menjijikkan, seketika itu Agung muntah, lalu pingsang kembali.

Hari-hari Agung selanjutnya diwarnai dengan hal yang sama, membuat ia pingsan, bangun, kemudian pingsan kembali begitu seterusnya. Agung telah masuk ke dalam mimpi yang terburuk di dalam hidupnya.

Kita tinggalkan dulu Agung yang mengalami mimpi buruk itu, kita kembali kepada Widodo yang masuk, berusaha untuk mencari Agung

Widodo siap dengan perutnya yang diikat seutas tali yang panjang. Setelah masuk melewati sebelah kiri pohon besar itu, keanehan dirasakan Widodo. Widodo merasa dirinya tidak terikat lagi oleh tali dan dia tidak ingat lagi akan teman-temannya, seolah dia di tempat itu sendirian, yang dia ingat hanya pesan kakek tua yang membisikan kepadanya sewaktu dia masuk tempat itu :

“Selamat datang di alam yang menakjubkan, alam yang penuh dengan keindahan juga sangat menakutkan. Keindahan, keheningan dan keangkeran berpadu menjadi satu. Janganlah kamu tergoda oleh sesuatu yang lebih indah dan menakjubkan dari yang lain, karena kamu akan terbawa pada alam yang sangat menakutkan dan mengerikan”

Semakin masuk ke dalam, semakin jauh ia berjalan semakin indah pemandangan yang dia jumpai dan semakin lupa akan keberadaan teman-temannya, juga lupa akan yang dia cari, seorang teman yang berada di alam itu juga, seorang teman yang terperangkap dalam tempat yang sangat menakutkan, yang sebenarnya tidak jauh dari dirinya.

Hari-hari yang dilalui Widodo semakin indah, pendangan nan indah, hawa nan sejuk tapi angin tidak pernah berhembus. Widodo tidak menaruh curiga sama sekali akan hal yang aneh yang mana angin tidak berhembus di tempat itu. Widodo hanya menikmati bunga-bunga yang indah dan sekali-sekali dia memetik buah untuk mengisi perut. Pada diri Widodo tidak terpikirkan kesusahan atau ketakutan sedikitpun, karena keindahan selalu mengiringinya. Dia melihat tempat duduk di tepi taman yang indah di mana depan tempat duduk itu menghadap ke arah Candi yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang beraneka warna yang menebarkan keharuman, juga buah-buahan, kemudian dia duduk di sana untuk bermalas-malasan sambil menikmati keindahan yang ada.

Kita kembali kepada empat orang yang kebingungan apa yang harus mereka perbuat untuk mencari dan menolong temannya.

Hari menjelang Subuh, tapi dalam kebingungan, ketakutan dan kecemasannya Farid ingat kepada Allah SWT, ingat kepada zat yang berkehendak atas segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini. Dia mengambil wudlu dan mengajak teman-teman untuk melakukan sholat Subuh karena pada waktu itu adzan Subuh telah berkumandang. Teman-temannya mengikutinya, mereka berwudlu dari air putih yang mereka bawah sebagai persediaan minum yang cukup untuk dua sehari. Mereka melakukan sholat Subuh bersama.

“Aku baru ingat akan pesan yang disampaikan oleh kakek tua dalam mimpiku, Tar” kata Farid setelah semua melaksanakan sholat Subuh, “Kalian masih ingatkan, mimpiku yang telah kuceritakan pada kalian kemarin malam” lanjut Farid

“Lalu siapa yang akan masuk ke sana untuk mencari kedua teman kita, tidak ada dari kita yang sesuai dengan mimpimu itu”

“Kita tunggu saja dahulu sehari atau dua hari, bukankah perbekalan kita masih cukup untuk dua hari, dan kalau kita bisa mengirit mungkin akan cukup sampai tiga hari. Nanti aku yang akan masuk ke sana, karena ini adalah tanggung jawabku, bukan karena aku sesuai dengan mimpiku itu” kata Farid

“Lalu Bagaimana nanti?” tanya Elfira yang sangat gelisah mendengar Farid yang sudah seperti kakaknya sendiri, harus masuk menyusul ke dua temannya. Tidak sanggup rasanya bila Elfira yang sangat sayang kepada Farid harus berpisah dengannya, karena selama ini Elfira begitu dekat dengan Farid, kemana Farid mendaki gunung, Elfira selalu ikut menemani, Elfira menganggap Farid adalah sebagai kakaknya, begitu juga orang tua dan keluarga Elfira, apalagi Ibu Elfira yang masih berdarah Jerman selalu menitipkan Elfira pada Farid baik di sekolah atau saat mereka mendaki bersama.

“Sudahlah sekarang kita, tunggu saja, kita lihat nanti”

Dalam penantian mereka tidak melakukan aktivitas apa-apa, kecuali, makan, mandi dan sholat. Tidak terasa hari sudah berganti hari, dan telah memasuki hari ketiga, namun teman-teman yang ditunggu tidak kunjung datang juga harapan sampai ke puncak Samiaji telah hilang dari angan mereka, yang ada harapan berjumpa kembali dengan kedua teman.

Perbekalan mulai habis dan penantian mulai membosankan, tapi di hati masing-masing masih berkecamuk rasa takut, bingung dan cemas.

“Takim, kau tidak boleh lama-lama meninggalkan sekolah” kata Farid
“Kau harus pulang, bila kamu di sini, maka kamu akan ketinggalan pelajaran. Turunlah dan ajaklah Elfira (adikku) untuk pulang bersamamu. Tapi sebelum kamu pulang mampirlah dahulu ke Bapak Anwar. Sampaikan salamku. Ceritakan tentang apa yang terjadi padaku juga teman-teman kita di sini. Beliau pasti tidak akan tinggal diam. Beliau Pasti akan datang ke sisni. Biarlah aku dan Muchtar yang menunggu di sini” lanjut Farid

“Baik Mas, mari kita segera turun Mbak Elfira, mumpung hari masih pagi” kata Takim

“Tapi…..Maaaassss” Elfira tidak dapat melanjutkan kata-kata, menetes air matanya harus berpisah dengan orang yang ia sayangi dalam keadaan seperti ini, juga bila mengingat akan apa yang dikatakan Farid waktu itu, bahwa dia sendiri yang akan masuk ke alam itu untuk mencari kedua temannya. Hati siapa yang tidak sedih bila harus berpisah, apa lagi perpisahan yang akan di alami adalah perpisahan ke alam yang berbeda.

“Sudahlah kau jangan bersedih dan jangan menangis adikku. Kau mendegar tadi apa yang baru aku katakan, bahwa aku menyuruh Takim untuk meminta pertolongan pada Pak Anwar. Kau tahu siapa Pak Anwar. Pak Anwar adalah Kami Tua atau sesepuh desa ini, mungkin beliau tahu tentang hal ini. Pak Anwar selama ini menganggap aku sebagai adik beliau. Mana mungkin beliau berpangku tangan melihat adiknya mengalami kesusahan” hibur Farid kepada Elfira

Walupun selamai ini hubungan Elfira dengan Farid bukan saudara sekandung, hanya teman sekolah SMA, akan tetapi hubungan mereka begitu dekat. Sehingga Elfira tidak tega harus pulang sendiri, sementara Farid harus menanggung semua peristiwa yang terjadi.

“Sudah adikku, berangkatlah kau bersama Takim, do’aku selalu menyertaimu di perjalanan. Sampaikan salamku pada ayah dan Ibumu” kata Farid

“Takim segeralah kalian berangkat, jangan lupa apa yang telah kukatakan tadi. Dan aku titipan Mbak Elfira padamu, jagalah dengan segenap tenagamu untuk aku” kata Farid pada Takim

“Baiklah Mas, akan kujaga dengan sepenuh tenagaku, bila perlu dengan nyawaku sekalipun” jawab Takim

“Terima kasih, Kim dan selamat jalan” jawab Farid

Walaupun Takim adalah anggota yang paling muda yang waktu itu masih kelas 3 SMP, namun Takim adalah anak yang baik, anak yang pemberani, setia kawan dan penuh tanggung jawab. Faridpun tidak kawatir, kalau Takim yang akan menjaga Elfira adiknya.

Takim pun berjalan pada jalan yang menanjak itu, padangan mata Farid tidak lepas dari keduanya, berat rasanya melepas adiknya bersama orang lain, karena hal ini tidak pernah terjadi, tapi keadaanlah yang memaksa demikian demi sayangnya kepada adiknya pula.

Elfira pun berjalan bersama Takim dan sesekali menengok ke arah belakang, arah di mana Farid dan Muchtar menunggu kedatangan dua teman mereka, berat rasanya meninggalkan mereka berdua, apalagi Farid kakaknya.

Mengapa Farid memilih Muchtar untuk menemani dia menunggu temannya yang hilang. Muchtar mempunyai banyak pengalaman, dia tahan banting terhadap segala cuaca alam, dia pernah berjalan kaki mengelilingi Indonesia selama satu tahun. Muchtar tidak pernah mengeluh dan panik walau kehabisan bekal. Muchtar tidak pernah mengeluh dan panik ketika mereka mendaki berempat dan tersesat. Faridpun sudah sering mendaki bersama Muchtar. Muchtar juga anggota yang paling tua walaupun di sekolah kelasnya masih di bawah Farid. Akan tetapi teman-teman lebih suka Farid yang memimpin.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Rid?” kata Muchtar

“Kita tunggu saja, kedatangan Pak Anwar. Barangkali beliau tahu jalan keluarnya” jawab Farid

Hari mulai sore, matahari mulai condong ke Barat. Pemandangan yang begitu indah di depan mereka berdua, namun tidak membuat mereka tertarik, karena hati mereka berdua masih diliputi rasa takut, bingung dan cemas.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup orang berbincang-bincang menaiki gunung ini. Semakin lama suara itu semakin jelas. Dan terlihatlah tiga orang di persimpangan di atas kebun jagung menuju tempat mereka. Suara itu semakin jelas dan semakin terlihat pemilik suara itu.

“Bukankah itu Pak Anwar bersama dua orang temannya, Tar” kata Farid ketika melihat Pak Anwar yang sedang menuju ke tempat mereka”

“Benar, Rid, itu Pak Anwar”

Pak Anwar sengaja mengajak dua temannya untuk membawa perbekalan air minum juga makanan.

“Assalamu’alaikum, bagaimana kabarmu, dik Farid. Aku mendengar dari adikmu Elfira bahwa kalian mengalami musibah. Dua orang teman kalian masuk ke alam lain”

“Memang benar Pak Anwar, kami mengalami musibah seperti apa yang telah disampaikan oleh Elfira. Mereka berdua masuk melewati sebelah kiri pohon besar itu. Lalu bagaimana dengan Elfira Pak Anwar”

Pak Anwar kaget ketika Farid menudingkan telunjuknya ke arah di sebelah kiri pohon.

“Masya’ Allah, mereka lewat jalan itu. Celaka teman-temanmu telah masuk ke dalam Candi Wayang. Alam di mana bila orang masuk ke dalamnya, mereka tidak dapat kembali”

“Tetapi aku telah bermimpi tentang hal yang aneh, Pak” kata Farid
“Apa mimpimu itu dik Farid, coba ceritakan padaku” kata pak Anwar

Kemudian Farid menceritakan tentang bagaimana satu persatu teman masuk ke tempat itu juga mimpinya kepada Pak Anwar sesepuh desa itu.

“Jalan indah tak berbatu yang menurun, diapit oleh dua tebing, disinari cahaya purnama, langit bertaburkan bintang. Melangkah ke depan akan terlihat pohon besar. Lewatlah jalan yang benar. Kalian akan bertemu padang rumput yang luas yang dikelilingi oleh tebing, di sini terlihat lebih Indah. Jangan kalian lewat dari sebelah kiri pohon, kalaupun terlanjur, hanya yang selalu ingat kepada Allah yang akan dapat membimbing kalian kembali pulang”

“Aku tidak dapat berbuat banyak, sepertinya hanya engkau yang dapat menolong temanmu itu untuk keluar dari sana, karena engkau yang mendapatkan mimpi itu, juga aku percaya pada engkau akan yang dimaksud oleh mimpi itu” jelas pak Anwar

“Kita sholat Ashar terlebih dahulu, aku sudah membawa banyak air untuk minum juga untuk berwudlu serta mandi. Nanti akan kita pikirkan bagaimana caranya setelah kita sholat Ashar” ajak pak Anwar yang kebetulan juga belum sholat Anshar karena perjalanan yang beliau tempuh.

Sholatlah kelima orang tersebut dipimpin oleh pak Anwar sesepuh desa. Setelah sholat pak Anwar menyuruh temannya untuk meninggalkan mereka bertiga, biarlah pak Anwar yang menemani mereka berdua.

Kedua teman pak Anwar menurunun gunung itu untuk kembali ke rumah masing-masing juga untuk menyampaikan kabar ini pada istri pak Anwar agar tidak cemas menunggu.

“Baiklah, sekarang kamu masuklah dik Farid, aku percaya bahwa engkau akan dapat menemukan dan membawa kedua teman kalian kembali. Biarlah aku di sini bersama Dik Muchtar.”

Setelah mempersiapkan perbekalan, yang sebelumnya juga mengisi perut terlebih dahulu, Farid melangkahkan kaki memasuki alam itu diiringi oleh do’a Pak Anwar serta temannya Muchtar.

“Selama apapun, kita harus menunggu di sini Dik Muchtar, jangan sampai meninggalkan teman kalian, karena aku percaya Dik Farid akan dapat membawa ke dua temannya kembali, walaupun mungkin waktunya agak lama” kata Pak Anwar.

“Baiklah Pak, akupun sedah terbiasa dengan keadaan seorang diri di alam terbuka” kemudian Muchtar menceritakan pengalaman saat dia keliling Indonesia dengan berjalan kaki sendirian, tanpa seorang teman selama satu tahun.

“Kamu banyak pengalaman juga, Dik Muchtar, lalu bagaimana dengan sekolah kalian”
“Mau bagaimana lagi Pak, biarlah aku menunggu sampai mereka kembali, kami berangkat bersama, pulangpun harus bersama, itu demi persahabatan kami Pak”

“Aku salut dengan kalian semua anak muda, selagi kau dapat memilih untuk pulang, kau memutus untuk menunggu teman-teman kalian”

Begitulah hari-hari mereka di warnai dengan percakapan. Tidak terasa hari telah berganti, dan minggupun berganti. Sudah seminggu Pak Anwar menemani Muchtar menunggu temannya.

Suatu pagi Pagi Anwar pamit untuk turun gunung mengambil perbekalan yang mulai habis. Sore harinya pak Anwar sudah dating kembali bersama temannya yang membawakan perbekalan. Seperti yang lalu setelah menaruh perbekalan teman-teman pak Anwar turun gunung meninggalkan mereka, tetapi kali ini pak Anwar ikut turun gunung, bukan berarti beliau tidak mau lagi menemani Muchtar menunggu. Akan tetapi sebagai sesepuh desa tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh warganya. Beliau ikut turun gunung karena ada urusan desa yang harus diselesaikan. Tapi sebelum turun beliau sempat berpesan kepada Muchtar untuk sabar menunggu. Pak Anwar percaya bahwa teman-temannya pasti kembali.

Sudah seminggu Muchtar menunggu ditemani pak Anwar, tapi untuk malam ini Muchtar akan menunggu sendirian, pengalamannya yang membuat Muchtar berani dan sabar menunggu.

Satu hari dilalui seorang diri, hari berganti-hari, dan minggu mulai berganti ia lalui seorang diri, namun ketiga temannya yang berada di alam lain belum kembali. Pak Anwar juga belum datang juga. Sementara perbekalan sudah menipis, akankah ia pergi ke desa untuk mengambil perbekalan. Namun Pada hari ke delapan Muchtar menunggu sendirian, di pagi hari pak Anwar datang bersama gua orang temannnya yang membawakan perbekalan.

“Sudah terlalu lama akau meninggalkan dirimu menunggu sendiri di sini, Dik Muchtar. Apa yang terjadi selama engkau menunggu. Apakah teman-temanmu sudah kembali?” tanya Pak Anwar

“Tidak terjadi sesuatu apapun Pak, tapi saya kawatir, kalau semakin lama mereka di sana akan semakin tidak tahu jalan pulang, pak”

Ketika itu seperti biasa, kedua teman pak Anwar kembali ke desa terlebih dahulu. Mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari mereka sebagai petani di desa itu.

“Sabar Dik Muchtar, aku yakin Dik Farid dapat menemukan kedua teman kalian dan membawa mereka kembali pulang” hibur pak Anwar

Hari-hari selanjutnya Muchtar tidak menunggu sendirian. Muchtar ditemani Pak Anwar, dengan demikian ada teman untuk bercakap-cakap.

Kita kembali ke Farid yang masuk ke alam lain untuk mencari kedua temannya yang masuk terlebih dahulu.

Setelah siap, dan perlengkapan serta perbekalan telah siap, Farid mengayunkan kakinya diawali dengan bacaan “Bismillahirrohmanirrohim” dan “Lailaahaillallah”

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Dan lapaz “Tiada Tuhan selain Allah”

Memulai sesuatu hendaknya dengan menyebut nama Allah SWT. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, seseorang yang meminta dengan sungguh-sungguh, Allah pasti akan mengabulkannya, karena Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Allah, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bila Allah SWT telah berkehendak. Tidak ada sesuatu yang akan menghalangi bila Allah berkehendak lain pula.

Tiada Tuhan selain Allah. Allah adalah kekuatan yang Maha Tinggi. Tidak ada kekuatan lain di jagad raya ini yang dapat menandingi kekuatan Allah, juga kekuataan alam ghoib sekalipun yang sedang mereka hadapi.

Dia berjalan memasuki pintu gerbang alam itu, dia mendengarkan bisikan yang sama dengan kedua temannya ketika memasuki pintu gerbang alam itu bisikan yang halus. Teringatlah ia akan mimpinya, bisikan dengan suara yang sama dengan mimpinya. Dia selalu mengingat akan nama Allah, dia tidak lupa akan mimpinya dan di memperhatikan bisikan yang halus namun jelas itu.

Dia berjalan menelusuri jalan yang ada di dalam alam itu, samping kiri dan kanan pemandangannya sangat indah, ia menikmati pemandangan itu, akan tetapi ia ingat semua, ingat akan sang Pencipta, ingat akan mimpinya, ingat akan bisikan itu juga ingat akan tutujuannya untuk mencari teman-temannya. Hal inilah yang membuat ia tidak terlena oleh pemdangan yang indah yang dapat menenggelamkannya ke dalam impian yang semakin dalam tanpa bisa bangun kembali.

Dia pun melihat tali yang mengikat Widodo lepas di tengah jalan itu. Akan tetapi simpul pada tali itu masih mengikat. Aneh……sekali lagi aneh, piker Farid dengan sadar

Di suatu taman luas yang indah , terdapat bangku untuk duduk menikmati pemandangan yang begitu indah dari sini terlihat Candi dikelilingi oleh bunga yang beraneka warna juga pohon-pohon yang telah berbuah ranum dan sebagian sudah masak. Duduklah seorang pemuda. Dihampirinya pemuda yang sedang duduk itu. Bukankah itu Widodo, mengapa dia hanya duduk terlena oleh pemandangan di depannya.

Widodo terlena seolah terbius dengan apa yang dia lihat, dia tidak sadar bahwa seorang temannya dari dunia nyata sedang mendekatinya.

Semakin dekat Farid berjalan ke arah Widodo. Widodopun tetap tidak sadar akan kehadiran Farid. Farid segera menyeblek (menampar tangan Widodo dengan pelan), Widodo baru sadar akan kehadiran Farid di sampingnya.

“Dok, kamu kok hanya duduk-duduk di sini, apakah Agung sudah kamu ketemukan”

Seakan disambar petir Widodo terperanjat dan menjawab “Aaa….apa, Aaaa…gung, belum aku ketemukan, aku baru saja istirahat di sini, untuk melepas lelah”

“Apa katamu, kamu baru sebentar istirahat, kami sudah tiga hari menanti kalian di depan pohon besar itu” kata Farid

“Apa sudah tiga hari, sudah selama itukah aku duduk di sini” sahut Widodo heran

“Ayo kita segera mencari Agung, agar teman kita tidak kelamaan menunggu kita” kata Farid

“Lalu siapakah yang menunggu kita kali ini”

“Muchtar ditemani pak Anwar, sementara Takim aku suruh pulang untuk menemani Elfira” jawab Farid

Mereka berjalan terus menelusuri jalan di alam itu. Tibalah mereka pada sebuah gua. Gua itu memang agak gelap tapi masih terlihat ada orang di dalamnya, seorang kakek yang sangat tua rambutnya sudah putih semuanya tidak ada satupun rambut hitam yang tersisa, kakek itu sujud sepertinya melaksanakan sholat. Benar kakek itu melaksanakan sholat. Setelah sholat kakek itu duduk seperti seorang yang sedang semedi (bertapa), akan tetapi dia gelisah seperti ada yang mengganggunya. Kakek itu melangkah keluar dari Gua.

“Anak muda perlihatkan dirimu, aku tahu kalian berdua telah memperhatikan aku sejak tadi”

Keluarlah Farid dan Widodo dari tempat di mana ia memperhatikan kakek itu. “Maafkan aku kek, bukan aku bermaksud jahat terhadap kakek. Akan tetapi aku heran ada seorang yang hidup di dalam alam ini. Aku setengah takut dan setengah tidak percaya dengan keberadaan orang di dalam alam ini” kata Farid

“Maksud kalian, kalian kira aku ini setan, begitu” kakek itu setengah sewot “Aku adalah manusia biasa, aku sudah lama hidup menyendiri di sini” lanjut kakek

“Bukankah kakek adalah orang yang dating dalam mimpi itu, dan bukankah kakek yang telah memberi peringat dengan bisisak kepada kami ketika kami memasuki pintu gerbang alam ini” kata Farid
“Benar cu, akulah orangnya” jawab kakek

“Lalu sebenarnya siapa kakek ini” sahut Widodo

“Dulu sebelum masuk ke alam ini orang menjebutku, Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus” jelas kakek

“Bukankah Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus sudah meninggal pada saat perang di Samiaji. Bukankah tokoh itu hidup di jaman Mojopahit yang berjulukan Pendekar Lembu Sakti, dengan nama mudanya Lembu Wongso” tanya Farid heran. Bukankah Pendekar Lembu Sakti hanya ada di dalam cerita yang ia (Farid) tulis, tokoh itu adalah tokoh fiksinya, mengapa sekarang ia ketemu di alam ini.

“Benar aku adalah Lembu Wongso, tokoh dalam cerita yang Kamu tulis, Farid” kata kakek.

Farid semakin heran, semakin mengerikan saja. Kalau benar kakek itu adalah tokoh dalam cerita fiksinya, bukankah dalam cerita itu kakek telah meninggal.

“Bukankah dalam cerita itu kakek sudah meninggal” tanya Farid memberanikan diri.

“Kau salah cucuku, aku tidak meninggal, aku hanya lari dari kejaran mereka, menuju lembah ini” kata kakek. Kemudian kakek itu menceritakan dengan lengkap perihal dirinya sampai di sini. Bahwa kakek ini semula mengasingkan di lembah yang pernah mereka kunjungi dalam lembah itu terdapat sebuah gua, kakek itu bersemedi (bertapa) di dalam gua, tapi setelah empat puluh hari dia bertapa tiba-tiba di terbawah ke alam lain dan tak seorangpun dapat melihatnya, hilang bersama gua yang ia tinggali saat ini.

“Kalau begitu umur kakek sudah enam ratus tahun lebih, yah kek” Tanya Farid

“Ngawur aja mana ada orang yang berumur selama itu, aku baru di sini tiga puluh tahun” jawab kakek

“Kalau benar kakek pernah hidup di jaman Mojopahit, maka kakek sudah berumur setua itu, karena jaman sekarang ini dengan jaman Mojopahit jaraknya lima ratus tahun lebih” jelas Farid

“Aacchh, selama itukah aku di sini. Aku di sini hanya mengalami pergantian hari selama tiga puluh tahun. Aku juga heran bila mendengar kabar dari luar sana, mengapa cucu-cucuku baru berusia sekitar satu tahun kok sudah menikah, juga mereka baru berusia sekitar tiga tahun kok sudah meninggal. Tapi aku enggan untuk keluar dari alam ini”

Sebenarnya dalam cerita yang ditulis Farid itu, kakek ini telah menurunkan raja-raja yang berkuasa di Samiaji, sampai dengan rajanya yang terkenal dengan nama Raden Glandang Jati.

“Aku mau tanya lagi kek. Kalau kakek adalah Si Peniup Suling Sakti dari Hutan Pinus, bukankah Si Peniup Suling Sakti belum mengenal Islam” tanya Farid

“Kamu salah cu, kalian tahukan cucuku yang bernama Gajah Pola da Simo Lelono. Kalau kalian tahun Gajah Polah dan Simo Lelono, pernah ke Troloyo dan pernah bertemu dengan Syeh Jumadil Qobru. Cucuku banyak belajar tentang prilaku yang mulya kepada Syeh Jumadil Qubro. Akupun belajar dari cucuku, karena kemuliaan Islam, maka sejak itu aku memeluk agama Islam” jelas kakek

“Boleh, kami minta tolong kepada kakek. Sebenarnya kami masuk ke dalam alam ini karena mencari teman kami yang masuk kesini terlebih dahulu. Apakah kakek dapat membantu kami?, apakah kakek tahu keberadaan teman kami” pinta Farid dan Widodo

“Ha, ha, ha temanmu yang terlena dengan keadaan yang ada, sehingga ia lupa bahwa ini semua hanya ciptaan zat yang Maha Kuasa. Musibah yang terjadi terhadap temanmu bukan karena orang lain, tapi karena kecerobohannya dia semata, ha, ha, ha, ha, ha” kakek itu menjelaskan dengan tawa terbahak-bahak.

“Lalu apakah kakek tahu tempatnya, apakah kakek dapat menolongnya” tanya Farid kembali.

“Aku tidak dapat menolong teman kalian, yang dapat menolong teman kalian hanya orang yang dating dari alam yang sama, yang dapat menolong hanya kalian berdua, tapi aku tahu dimana saat ini temanmu berada” kakek bercerita sambil menghela nafas pajang.

“Di mana Kek” lanjut Widodo penasaran

“Aku tidak tega, untuk menceritakan apa yang sedang dialami oleh teman” kalian

“Ceritakan pada kami Kek, kami siap mendengar cerita Kakek”

“Teman kalian terperangkap ke dalam alam yang sangat mengerikan yang sebenarnya letaknya tidak jauh dari sini, karena kecerobohannya sendiri. Dia di sana bangun, pingan dan bangun kembali begitulah seterusnya, hal ini karena apa yang dilihat dan di temuinya di alam sana. Kalau sampai malam tidak ada orang yang menolongnya, maka selamanya ia kembali” jelas kakek

“Apakah kami tidak terlambat kek, apakah teman saya masih dapat diketemukan” tanya Widodo

“Tentu tidak terlambat, tetapi hany akalian berdua yang dapat menolongnya. Oleh sebab itu segeralah kalian menyusul kesana. Tetapi sebelumnya, engkau Farid harus tetap ingat pada Allah, dan ingat pada pesan dalam mimpimu” pesan kakek

“Lalu, dimana kami dapat menemukan teman kami kek”

“Sebenarnya letaknya tidak jauh, di sebelah Candi Wayang yang berada di depan taman sebenarnya ada jalan bercabang, dari sini belok ke kanan, sebenarnya jalan itu berujung pada pohon dengan bunga yang sangat indah lebih indah dari lainnya dan buah yang sangat menggiurkan lebih menggiurkan dari yang lain. Akan tetapi aku percaya kepada, kalau engkau tidak akan tergiur dengan pohon itu. Kau masuklah ke sela-sela pohon, dengan tetap ingat kepada Allah segala sesuatu yang kau sentuh akan menjadi terang dan jelas. Dan do’aku selalu menyertai kalian. Selamat jalan cucuku. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian” kata kakek

“Assalamu‘alaikum, selamat tinggal kek” Farid dan Widodo segera melangkah menuju ke tempat dimana Agung terjebak. Langkahnya tergesa, karena mereka takut kehaduluhan malam datang. Pada Kakek itu Farid sengaja tidak bertanya mengapa Kakek tidak ingin keluar dari alam itu.

Dari pertigaan yang ada di sebelah taman, terlihatlah pohon dengan buah dan bunga yang lebih menakjubkan dari pohon-pohon yang lain yang berada di alam itu.

“Mungkin di sana itu, tempat yang dimaksud Kakek, Dok” kata Farid

“Kalau melihat ciri-cirinya sama, benar mungkin itu. Ayo kita segera kesana Rid” kata Widodo

Farid dan Widodo mempercepat langkahnya untuk menuju ke pohon yang dimaksud. Akan tetapi sesampai di depan pohon mereka bingung karena di sini tidak terlihat siapa-siapa juga jejakpun tidak ada. Farid termenung sambil membaca do’a-do’a dan dia berpikir. Ia teringat akan pesan kakek di peganglah pohon itu, maka secara aneh terlihatlah alam lain, alam yang mengerikan, penuh dengan sisa-sisa tubuh manusia atau tengkorak di dalamnya, terlihat Agung tergolek di antara tulang belulang manusia, namun tiada makhluk lain di tempat itu.

Widodo bergegas menghampiri dan membangunkan Agung. Agung terbangun, namun bingung setengah linglung dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya bahkan Agung tidak mengenal orang-orang yang ada di sampingnya.

“Siapa kalian, dan di mana aku sekarang?” tanya Agung

“Kami adalah temanmu, dan kau sedang tersesat di alam ini” jawab Widodo

Agung menolek kesana kemari, dengan wajah ketakutan.

Kemudian Farid mendekat, dan memegang tangan Agung “Kami adalah temanmu, apakah kau lupa” kata Farid

Keanehan kembali terjadi. Agung tiba-tiba ingat dan merangkul kedua temannya. Keanehan ini sesuai dengan pesan kakek, bahwa segala apa yang disetuh Farid akan menjadi terang.

“Mari kita segera meninggalkan tempat ini, jangan sampai kemalamam, teman kita sudah menunggu terlalu lama di luar sana” ajak Farid

“Memang berapa lama aku tersesat?” tanya Agung

“Sebeleum Aku masuk ke sini, kami sudah menunggu selama tiga hari di luar sana” kata Farid

“Ah, sudah tiga hari, aku merasa baru tadi pagi memasuki tempat ini” kata Agung

“Aku juga merasakan hal yang sama denganmu Gung” lanjut Widodo

“Memang kalian tidak masuk secara bersamaan?” tanya Agung

“Tidak Gung, aku masuk lebih dahulu, kemudia Farid menyusulku” jawab Widodo

“Teman, itu jalan dimana kita masuk sudah kelihatan, dan itu tali yang aku ikatkan pada perut Widodo. Ayo kita segera kesana” ajak Farid

Sementara yang terjadi di alam itu hari sudah mulai senja. Kita lihat dulu bagaimana keadaan Muchtar dan Pak Anwar

Hari-hari yang Muchtar lalui berdua dengan Pak Anwar, tidak ada perkembangan, menunggu dan menunggu. Sudah tidak terasa bahwa mereka telah memasuki hari kesembilanbelas penantian mereka sejak Agung pergi terlebih dahulu. Kalau orang lain mungkin tidak tahan, tapi Muchtar adalah pemuda yang penuh dengan pengalaman seperti ini. Sementara Pak Anwar sesekali pulang untuk menemui istrinya meninggalkan Muchtar sendirian menunggu. Hari itu Pak Anwar sedang menemani Muchtar.

“Sampai kapan kita alan menunggu Pak” kata Muchtar

“Sabar Dik Muchtar, mungkin besok atau lusa aku rasa mereka sudah kembali” hibur Pak Anwar

Hari itu mereka lalui dengan bercakap-cakap untuk menghilangan kebosanan. Tiada terasa hari sudah malam kemudian mereka tidur. Subuh mereka bangun kemudian sholat bersama. Setelah sholat mereka di kejutkan oleh langkah kaki orang dari arah sebelah kiri pohon, diikuti oleh salam.

Dalam keadan menunduk karena masih membaca do’a-do’a, mohon kepada Allah SWT, mereka kaget karena mereke mengenal suara orang di depan pohon besar yang jaraknya hanya satu meter dari mereka, yang mana suara itu tiba-tiba muncul. Keduanya menoleh ke arah datangnya suara secara bersamaan, dan membalas mengucapkan salam. Ternyata benar bahwa pemilik suara itu adalah Farid yang kembali bersama Agung dan Widodo yang perutnya masih terikat.

Mereka saling berjabat tangan untuk melepaskan kerinduan karena perpisahan yang merke alami..

“Sudah terlalu lama aku menunggu disini, aku hampir tidak tahan menunggu, tapi karena ingat akan persahabat juga karena pengalamanku, maka aku sabar menunggu kalian” kata Muchtar

“Memang berapa lama engkau menunggu kami?” tanya Agung

“Sudah memasuki hari yang ke duapuluh” jawab Muchtar

“Apaaaaaa, sudah selama itukah kalian menunggu kami, sedangkan aku hanya mengalami satu hari di alam sana, aku sungguh tidak mengerti tentang apa yang engkau katakan, Tar?” kata Agung heran dengan kejadian itu

“Benar, Dik Agung, kami memang sudah menunggu duapuluh hari setelah kepergianmu, meninggalkan teman-temanmu, aku yang menemani Muchtar selama tujuhbelas hari di sini, yang tiga hari sebelumnya masih ditemani oleh teman kalian, juga Dik Farid” jelas Pak Anwar

“Aku juga heran mengapa aku terikat lagi. Padahal di dalam sana ikatan pada perutku ini sudah terlepas” kata Widodo

“Sudahlah, mana aku lepaskan, mari kita turun meninggalkan tempat ini” sahut Farid yang sudah tidak heran lagi dengan apa yang dialami oleh Widodo

“Mari kita turun, kalian selakan mampir dan beristirahat di rumah kami” kata Pak Anwar

Merekapun turun menuju rumah Pak Anwar. Sesampai di rumah Pak Anwar Farid mohon ijin untuk meninggalkan mereka sebentar, untuk menelpon keluarga di surabaya guna memberitahukan keadaanya dan teman-temannya, juga tidak lupa menelpon Elfira. Sementara teman merka saling bercerita tentang kejadian itu. Candi Wayang mempunyai perbedaan waktu dengan dunia nyata. Di Candi Wayang hanya satu hari di dunia nyata sudah berjalan duapuluh hari. Itulah mengapa Kakek tua penunggu gua hanya meresa di alam sana selama tigapuluh tahun sejak peristiwa di Samiaji di Jaman Mojopahit sampai sekarang ini (tahun 1986), sementara yang terjadi di dunia kita sudah ratusan tahun lamanya (lima ratus sampai enam ratus tahun.

Setelah Sholat Dhuhur, mereka berempat kembali ke Surabaya, dengan membawa kenangan yang tidak pernah terlupakan. Kenangan akan Candi Wayang di Dunia Lain, yang mana menurut penduduk desa setempat ada waktu-waktu tertentu pintu gerbang Candi Wayang terbuka, yang biasanya tertutup oleh pohon yang tumbuh, di samping pohon besar itu untuk menghalangi orang masuk.

Mereka selamat sampai di rumah, yang mana menurut penduduk desa bahwa sesorang yang masuk ke sana tidak akan pernah kembali. Dan hal seperti itu sudah banyak terjadi. Makanya jalan menuju kesana tidak pernah dilalui oleh penduduk desa, walaupun pintu gerbang Candi Wayang jarang sekali terbuka.

Salam,
ridwan
01 Juli 2009 sby

Baju Seragam Bu Guru


Tole adalah seorang anak kecil yang berusia hampir sembilan tahun, Tole dari keluarga kurang mampu. Namun Tole adalah anak yang penurut kepada orang tuanya. Tole bersekolah di SD Negeri Inpres yang letaknya agak jauh dari rumahnya. Tole duduk dibangku kelas tiga SD. Sehari-hari Tole berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki, kadang sendirian dan kadang bersama teman-temannya.

Karena orang tua Tole tergolong tidak mampu, maka hanya dapat membelikan baju seragam untuk Tole dua pasang. Namun Tole giat sekolah dan tidak pernah bolos.

Pada suatu hari Senin, waktu itu musim hujan, Tole berangkat ke sekolah. Seperti biasanya Tole berjalan kaki. Di tengah perjalanan hujan turun, Tole tidak sempat berteduh, sehingga Tole kehujanan dan tubuhnya basah kuyub.

Tole kembali ke rumah untuk mengganti seragamnya dengan seragam satunya. Namun hujan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung reda sampai waktu belajar di sekolah selesai. Akhirnya Tole hari itu bolos sekolah. Tole sedih karena harus bolos sekolah. Mau berangkat juga tidak punya payung dan tidak punya jas hujan.

“Sudah toh le, nggak usah sedih, kamu kan tidak bermaksud untuk membolos”

“Iya, mak tidak apa-apa”

Pada hari esoknya, hari Selasa Tole sudah siap pagi-pagi benar. Dengan gembira Tole berangkat sekolah lebih pagi agar tidak kehujanan di jalan. Namun apa hendak dikata, Untung tak dapat diraih dan Malang tak dapat dihindari. Di tengah jalan yang sepi, tidak ada tempat berteduh, Tole kehujanan, kembali Tole basah kuyub. Tole pulang dengan hati sedih karena hari itupun dia tidak dapat bersekolah.

Sesampai di rumah Tole sangat sedih. Dua pasang bajunya kini harus dijemur karena sepasang baju yang kemarin belum kering. Terpaksa hari itu Tole bolos sekolah.

Hari selanjutnya Tole tidak dapat pergi ke sekolah karena kedua pasang baju yang dijemur belum kering, karena seharian kemarin hujan dan mendung.

Toleh sangat sedih harus bolos selama tiga hari, padahal sebelumnya Tole tidak pernah bolos.

“Jangan terlalu sedih Le, kamu kan tidak bermaksud membolos, dan hanya mempunyai dua pasang baju”

“Apakah teman-teman dan Bu Guru juga hanya memiliki dua pasang baju, Mak”

Dengan pertanyaan seperti ini seorang ibu akan tidak berdaya, apalagi kepada seorang anak yang penurut seperti Tole. “Iya Le, semua temanmu juga sama kok Le” sang ibu terpaksa berbohong untuk menyenangkan hati buah hatinya.
“Ya sudah Mak, tidak apa-apa”

Pada keesokan harinya hari Kamis Tole berangkat sekolah,. cuaca hari itu cerah. Sesampai masuk kelas Tole dipanggil Bu Guru untuk maju ke depan.

“Tole mengapa selam tiga hari kamu tidak masuk, sekolah?”

“Hari Senin dan Selasa saya kehujanan Bu, lalu saya pulang”

“Hari Rabu kamu juga tidak masuk sekolah?”

“Hari Rabu pakaian saya sedang dijemur dan belum kering Bu, pakaian saya semuanya kehujanan”

“Baiklah Tole, kamu duduk kembali!!”

Keesokan harinya, Hari Jum’at Tole berangkat sekolah, Tole melewati rumah Bu Guru. Di depan rumah Bu Guru terdapat jemuran yang banyak, juga baju seragam Bu Guru yang jumlahnya dua pasang. Tole memperhatikan jemuran itu. Tole ingat apa yang dikatakan emaknya, lalu Tole kembali pulang ke rumah.

Sesampai di rumah Ibu Tole bertanya, “Le, mengapa kamu tidak sekolah?”

“Bu Guru, tidak masuk Mak” jawab Tole

Emakpun tidak bertanya lebih lanjut, karena Tole memang tidak pernah bolos dan juga penurut.

Pada hari Sabtu Tole berangkat ke sekolah. Tolepun lewat di depan rumah Bu Guru. Hari iru tidak ada jemuran sama sekali di depan rumah Bu Guru. Tole terus berjalan menuju sekolah.

Sesampai masuk kelas, kembali Bu Guru memanggil Tole.

“Tole, mengapa kemarin kamu tidak masuk sekolah lagi?”

Tole bingung dan clingak-clinguk lalu menjawab “Bukankah Bu Guru kemarin tidak masuk sekolah”

“Kamu kok menyangka Bu Guru tidak masuk sekolah, Le???”

“Ketika lewat di depan rumah Bu Guru. Tole melihat pakaian Bu Guru yang dua pasang sedang di jemur, kata emak saya kita semua memiliki dua pasang pakaian seragam, jadi saya kira ibu tidak masuk sekolah. Kalau begitu kemarin Ibu memakai pakaian apa?”

“Haaaa…..” Bu Guru terkejut

Diikuti “Geeeerrrrrrr” suara ketawa teman Tole seluruh kelas.

Dengan sedikit geli Bu Guru berkata "Sudah Le, kamu kembali ke bangku!!!"

Sementara Tole masih cengar-cengir memikirkan 'Kemarin Bu Guru pakai baju apa yaaa..'

Macan Putih

Macan Putih Penjaga Gua di Puncak Samiaji

Oleh : Ridwanto



Dengan hati yang penuh harapan ingin sampai ke puncak Samiaji, sekelompok pemuda mempercepat ayunan kakinya melangkah memasuki desa Samiaji yang sebentar lagi akan kelihatan Gapuronya. Desa dengan pemandangan yang begitu indah, dengan hawa yang begitu sejuk. Desa yang diapit oleh dua gunung ini membuat desa ini membawa daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Apitan gunung membuat desa ini begitu indah. Air sungai yang mengalir begitu bersih, kelihatan dasar sungai yang dipenuhi batu, hampir tidak ada satu kotoranpun yang mengikuti aliran sungai yang begitu deras di desa itu, yang mengeluarkan suara gemercik.

Tumbuhan yang rimbun dengan hijau dedaunannya menambah asri desa Samiaji. Ingin rasanya berlama-lama dan tidak meninggalkan tempat ini. Angin yang sepoi mengalir menyibak dedaunan padi yang mulai menguning yang menghampar luas, membuat suasana desa ini semakin memiliki daya tarik. Namun kelompok pemuda itu harus sampai di tujuannya di puncak Samiaji.

Ketika memasuki desa Samiaji hari menjelang sore, matahari sudah condong ke barat. Walau matahari bersinar terang namun tidak menyengat badan, bahkan masih sejuk terasa.

Kelompok pemuda itu menghentikan langkahnya ketika sampai di depan Masjid. Mereka berempat kemudian sholat Ashar. Setelah semua pemuda itu selesai sholat, kemudian menuju warung yang terletak tidak jauh dari Masjid. Mereka mengisi perut sambil melepas lelah karena perjalanan jauh yang telah mereka tempuh.

Sore itu warung agak sepi, dan suana desapun sepi, tidak seperti biasanya banyak pendaki yang datang ke desa itu. Duduklah mereka berempat di kursi warung itu, dimana sebelumnya sudah ada dua orang yang duduk ngopi di warung itu, mereka adalah penduduk setempat.

“To wis siap tah olehe awakmu nggawe tumpeng kanggo mengko wengi?” (To, apa sudah siap tumpeng yang kamu buat untuk acara nanti malam) kata seseorang yang setengah tua yang bernama pak Suyono.

“Uwis mas No, mengko sing melu wong piro?” (Sudah mas No, nanti yang ikut orang berapa) kata Parto

“Yo koyok biasane, wong patangpuluh lebih” (Ya seperti biasanya, orang empatpuluh lebih) jawab Suyono

“Sopo sing mimpin?”(Siapa yang memimpin) tanya Parto kembali

“Yo koyok biasane, sopo maneh kajobo, cak So” (Ya seperti biasanya, siapa lagi, Mas So) Jawab Suyono

Mendengar pembicaraan mereka, tertariklah pimpinan pemuda pendaki yang bernama Farid untuk bertanya kepada dua orang yang setengah tua itu.

“Permisi pak, saya mau bertanya. Mengapa hari ini kok begitu sepi, juga tidak ada pendaki yang datang ke desa ini?”
Pak Yono menjawab, “Hari inikan hari Kamis malam Jum’at Legi. Biasanya hari-hari seperti ini tidak ada pendaki yang datang untuk mendaki”

“Lalu penduduknya kemana, kok begitu sepih, biasanya pada jam-jam seperti ini, masih di sawah, dan sebagian duduk-duduk di warung ini?”

“Sebagian dari mereka mempersiapkan acara untuk nanti malam yang akan diadakan di puncak Gunung Samiaji, yang sebagian lagi istirahat, untuk mempersiapkan tenaganya agar dapat mendaki sampai ke Puncak.”

“Akan ada acara apakah nanti malam di puncak?” lanjut pemuda semakin penasaran

“Setiap Kamis malam Jum’at Legi Warga sini mengadakan hajatan kirim do’a untuk leluhur di Puncak Samiaji. Kalau kisanak tidak tergesa-gesa ikut saja dengan kami mendaki bersama-sama setelah sholat Maghrib. Kami nanti berkumpul di Masjid dan berangkat dari sana”

“Baik pak agaknya kami tertarik dengan acara tersebut, dan lagi, Maghrib kan tinggal sebentar lagi” jawab Farid sambil menyruput kopi yang anget-anget kuku.

Kemudian mereka melanjutkan menikmati hidangan warung mbok Warsih sambil melepas lelah serta menunggu datangnya Maghrib.

Adzan Maghrib berkumandang, mereka berempat segera melangkahkan kakinya ke Masjid, mengambil wudlu’, kemudian sholat berjama’ah bersama-sama penduduk setempat. Banyak sekali yang sholat berjama’ah. Hampir seluruh warga sholat berjama’ah di Masjid itu. Desa ini memiliki penduduk yang semuanya beragama Islam, dan penduduknya tidak pernah meninggalkan sholat.

Setelah sholat selesai sebagian warga pulang, dan semua wanita juga pulang, hanya tinggal kira-kira tiga puluh orang lebih yang masih berkumpul, kemudian datang rombongan yang membawa tumpeng yang tadinya pulang terlebih dahulu, juga sebagian wanita membawakan makanan untuk acara tersebut. Acara tersebut nantinya hanya diikuti oleh pria saja sedangkan wanita yang sekarang ada di halaman masjid akan pulang.

Rombongan yang kira-kira terdiri dari empat puluh orang lebih itu, berangkat sampil membawa tumpeng. Diikuti empat orang pemuda pendaki yang berada di belakang mereka.

Langkah mereka pelan teratur. Mula-mula rombongan pendaki itu bersama empat orang pemuda, akan tetapi setelah menempuh waktu kira-kira setengah jam lebih, empat orang pemuda itu kelelahan. Namun Rombongan warga yang langkahnya pelan tapi pasti agaknya tidak mengalami kelelahan mereka berjalan terus, walaupun sambil membawa tumpeng. Sementara empat orang pemuda berusaha untuk bersama rombongan itu, akan tetapi langkahnya semakin berat. Ketika sampai di tengah hutan, di pelataran yang agak rata, dan kira-kira berjalan satu jam lebih, keempat pemuda ini memutuskan untuk beristirahat sebentar. Jalan di depan mereka semakin menanjak tajam, bagi mereka jalan yang akan dilalui semakin berat. Apakah rombongan pemuda akan dapat menyusul rombongan warga tersebut.

Setelah merasa segar kembali, keempat pemuda segera menyusul dengan langkah yang cepat. Namun setelah mempercepat jalannya, mereka tidak melihat rombongan yang di depannya seakan hilang ditelan rimbunnya pohon-pohon hutan yang ada. Kembali kelelahan menyerang mereka, mereka beristirahat sebentar kemudian melanjutkan kembali, begitu seterusnya, dan jarak waktu istirahat semakin lama semakin dekat, karena kelelahan.

Setelah berjalan kira-kira lima jam sampailah mereka pada stefa, mereka berjalan di padang stefa (padang rumput yang diselingi dengan semak-semak).

“Kapan kita sampai di puncak?, sepertinya warga desa sudah sampai sana” tanya Agung

“Sebentar lagi kita sampai ke Sabana (padang rumput) selanjutnya ada Gua, dan di atasnya adalah kepundan, kemudian kita sampai puncak” jawab Muchtar

Sementara Si Margo yang sejak berangkat hanya diam saja, si Margo memiliki tenaga yang paling lemah di antara teman-temannya.

“Kita hampir sampai di Sabana” kata Farid yang melanjutkan dengan istirahat karena mereka sampai di perbatasan stefa dan sabana. Mereka beristirahat di bawah semak yang rindang. Mereka memandangi sabana yang luas, juga melihat jauh ke atas ke arah Gua. Alangkah terkejutnya mereka ketika mereka melihat sosok makhluk putih yang mondar-mandir di depan Gua. Makhluk yang sangat besar.

“Macan Putih” kata Farid dengan lirih, serta gemetar seluruh tubuh Farid dan nafasnnya mulai saling memburu.

“Haaaaaaaa, macan” ketiga temannya menyahut dengan suara gemetar pula, “Tidak mungkin, itu bukan macan, mana ada macan putih di sini, dan bila benar makhluk itu adalah macan, tidak mungkin sebesar itu, sebesar kuda” sahut Margo yang kali ini mengeluarkan kata-katanya karena dia juga takut setengah mati.

Mereke berempat kemudian mengurungkan melanjutkan langkahnya, bahkan mereka mundur bersembunyi di semak-semak sambil mengintai makhluk yang menghadang mereka.

Makhluk itu tetap mondar-mandir, sambil sesekali mengaum, memandang ke arah empat pemuda yang bersembunyi. Makhluk itu tahu akan kehadiran makhluk lain di depannya, namun ia tidak menyerang, makhluk itu hanya menjaga Gua, menghadang jalan di samping Gua yang menuju ke Puncak.

Sudah satu jam mereka menunggu dalam ketakutan, sudah satu jam mereka menunggu dihantui kecemasan, tapi makhluk yang berada di depan Gua itu tidak beranjak dari tempatnya. Pilihan lain adalah kembali, namun tekad mereka sudah bulat untuk sampai di Puncak Samiaji. Mereka akan menunggu selama apapun.

Setelah menunggu sekian lama, dari jalan di atas Gua terdengar sayup-sayup rombongan bercakap-cakap turun dari puncak, semakin lama terdengar langka mereka, dan akhirnya rombongan itu terlihat oleh empat pemuda.

Namun keanehan terjadi disini, hanya sekejap mereka tidak memperhatikan keberadaan makhluk yang sangat menakutkan, karena empat pemuda ini memperhatikan datangnya rombongan yang turun dari puncak, makhluk itu tiba-tiba tidak terlihat bersama dengan mendekatnya rombongan dari puncak ke Gua.

Empat pemuda ini segera keluar dari persembunyiannya, segera mereka melangkakan kakinya dengan cepat. Pikir mereka inilah kesempatan mereka. Empat pemuda itu kemudian menghampiri anggota rombongan yang mereka kenal.

“Hai kisanak kemana saja kalian, kalian baru sampai, Apa yang terjadi dengan kalian. Apakah di antara kalian ada yang sakit atau terluka” tanya pak Parto ketika mereka berpapasan

“Tidak Pak, kami dihadang oleh makhluk yang sangat besar dan menakutkan, bentuknya seperti macan warnanya putih, tapi besarnya sebesar kuda”

“Ah….!!!!, kalian ini ada-ada saja, mana mungkin ada makhluk seperti itu di sini” sahut pak Suyono

“Benar pak, kami tidak bohong, bahkan makhluk itu tadi di situ” jawab Farid menuding ke arah Gua yang letaknya hanya sekitar enam meter dari mereka berdiri.

“Mari ikut aku!!!” ajak pak Parto, yang diikuti oleh pak Suyono, mereka berempat pun mengikuti menuju Gua yang diperkirakan oleh empat pemuda itu sebagai persembunyian makhluk tersebut. Sementara warga lainnya turun meninggalkan mereka berenam.

Setelah pak Parto masuk kedalam Gua diikuti oleh pak Suyono, di dalam gua tidak ada apa-apa. Gua ini sempit hanya dapat dimasuki oleh tiga sampai empat orang. Empat pemuda itu menunggu di luar pintu Gua.

“Hai kisanak, kalian lihatlah ke dalam!!!, disini tidak ada makhluk itu kan??” kata pak Parto sambil keluar diikuti oleh pak Suyono

“Sekarang kalian masuklah, biar kami menunggu di luar!!!” tambah pak Suyono

Dengan hati yang masih cemas dan takut, masuklah empat orang pemuda itu satu persatu ke dalam Gua untuk membuktikan apakah makhluk yang mereka lihat tadi bersembunyi di dalam. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa, hanya Gua yang kosong.

“Sekarang kalian percayakan, bahwa makhluk itu memang tidak ada” kata pak Parto

“Lalu yang kami lihat tadi itu apa, pak???” tanya Farid

“Ya mungkin itu hanya penglihatan kalian yang kacau karena kelelahan” jawab pak Yono

“Tidak mungkin pak, kami sudah menunggu begitu lama dalam persembunyian, dan lelah kami sudah hilang, tapi makhluk itu masih ada” kata Agung

“Sudahlah, kalian kan akan melanjutkan ke puncak. Puncak dari jalan di atas gua ini sudah kelihatan. Lanjutkanlah niat kalian ke Puncak, sementara kami berdua akan pulang karena telah ditunggu keluarga”

“Baiklah, selamat jalan pak”

“Selamat jalan anak muda, semoga selamat sampai tujuan”

Akhir mereka berpisah. Empat orang pemuda melanjutkan perjalanan ke Puncak Samiaji dengan diikuti oleh suasana yang mencekam. Sementara dua warga desa turun untuk kembali ke desa ke rumah mereka masing-masing.

Kira-kira pukul tiga lebih sampailah empat orang pemuda di Puncak Samiaji. Puncak dengan pemandangan yang indah. Di pagi hari bila langit tidak mendung kota yang jauh di bawah akan kelihatan. Mereka berhenti untuk menikmati pemandangan Puncak sambil menunggu datangnya sinar matahari, mereka juga melakukan sholat Subuh di Puncak.

Setelah matahari terbit dan puas menikmati pemandangan, mereka berempat turun. Dalam perjalan turun sekali lagi mereka masuk kedalam Gua untuk melihat apakah makhluk yang mereka lihat ada di sana. Tetapi makhluk itu tidak ada di sana.

Mereka pulang setelah sholat Jum'at di masjid desa itu, dengan membawa rasa penasaran, mereka pulang dengan membawa teka-teki tentang makhluk di depan Gua.

Karena rasa penasaran mereka, sepuluh hari kemudian mereka mendaki kesana berempat, kali ini mereka pergi pada hari sabtu, akan tetapi pada hari itu mereka bertemu dengan banyak pendaki lain, dan tidak terjadi apa-apa.

Dua puluh lima hari kemudian, pada hari Kamis malam Juma’t Legi, mereka mendaki kembali ke Samiaji hal ini mereka lakukan karena rasa penasaran mereka. Namun kali ini mereka tidak bersama dengan warga, mereka berangkat mendahului warga. Setelah sholat Ashar mereka berempat berangkat tanpa menunggu sampai Maghrib. Meraka melakukan sholat Maghrib di dalam hutan.

Setelah kira-kira hampir pukul sebelas malam mereka telah sampai di perbatasan Stefa dan Sabana. Langkah mereka terhenti, mereka dikejutkan oleh makhluk besar putih seperti macan yang mondar-mandir di depan Gua, merekapun bersembunyi di tempat yang sama ketika mereka dahulu bersembunyi.

Mereka menunggu dengan hati yang masih ketakutan sama seperti dulu. Gemetar menggelayuti seluruh tubuh mereka. Rasa takut semakin lama semakin terasa, bulu kuduk mulai berdiri ditambah dengan hawa yang semakin malam semakin dingin menusuk ke seluruh tulang-tulang, membuat sekujur tubuh mereka menggigil.

Setelah mereka menunggu kira-kira satu jam, dari arah bawah mereka terdengar sayub-sayub rombongan yang akan naik ke puncak. Semakin lama semakin jelas langkah mereka.

Setelah rombongan itu mendekat merekapun menoleh ke arah rombongan untuk menyapa anggota rombongan yang mereka kenal. Namun lagi-lagi keanehan terjadi di sini ketika mereka menoleh kembali ke arah atas, makhluk itu sudah lenyap. Mereka akhirnya bersama rombongan menuju ke puncak. Apa yang mereka lihat kali ini tidak mereka ceritakan pada rombongan itu.

Sesampai di puncak romongan mengadakan acara kirim do’a. Ternyata di puncak ada dua makam. Rombongan warga menaruh tumpeng di atas makam.

Sementara prosesi kirim do’a masih berjalan, dan tanpa diketahui warga, empat orang pemuda itu segera turun kembali ke Gua. Setelah mereka berada kira-kira seratus meter di atas Gua, kembali mereka dikejutkan oleh makhluk yang tadi. Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu rombongan turun.

Setelah rombongan turun mendekati mereka, seperti yang lalu, kembali terjadi keanehan. Makhluk di depan mereka lenyap seakan ditelan bumi.

Merekapun bersama-sama rombongan turun ke desa. Sesampai di desa kira-kira pukul tiga pagi. Empat pemuda ini terpaksa menginap di rumah Kami Tua yaitu pak Anwar sesepuh desa. Pagi-pagi benar mereka bangun kemudian sholat Subuh. Setelah sholat mereka duduk-duduk sambil bercakap-cakap dengan pak Anwar, beliau menceritakan apa yang beliau tahu tentang Macan Putih. Beliau pun mengatakan adalah Saru (tabu) menceritakan hal ini kepada penduduk luar desa, untuk itu mengapa penduduk desa tidak mau menceritakan hal ini.

Setelah matahari sudah bersinar mereka pamit pulang, tapi masih menyimpan rasa penasaran tentang makhluk Macan Putih di depan Gua di Puncak Samiaji. Sampai sekarang masih menjadi misteri. Ternyata hal ini juga pernah di alami oleh pendaki lain. Bahkan ada pendaki yang ketakutan setengah mati memilih lari kembali, akhirnya jatuh dan terluka parah, tapi warga tetap membisu.

previous